Tampilkan postingan dengan label Depresi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Depresi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 September 2011

Blueberry dapat Melawan Depresi dan Juga Hipertensi

Blueberry dapat Melawan Depresi dan Juga Hipertensi
Artikel Tentang Kesehatan - Blueberry dapat Melawan Depresi dan Juga Hipertensi.  Dari sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli dari British Nutrition Foundation diketahui bahwa untuk menghindari depresi tidak harus melalui rentetan sesi terapi psikologi yang sangat membosankan.  Hanya dengan banyak mengonsumsi blueberry secara rutin dapat melawan depresi dan juga stres.

Pada penelitian ini diketahui bahwa mikronutrien yang terdapat dalam blueberry memberikan efek yang cepat terhadap otak yang akan meningkatkan mood dan ketajaman mental seseorang.  Para peneliti juga menemukan efek serupa pada cokelat dan sayur-sayuran hijau. "Mikronutrien tertentu dalam blueberry, cokelat dan berbagai sayuran hijau dapat memberikan pengaruh besar pada suasana hati," ungkap pimpinan penelitian, Dr. Emma Williams.

Manfaat blueberry tidak hanya sampai di sini. Penelitian terdahulu dari Universitas East Anglia dan Universitas Harvard menemukan bahwa blueberry dapat membantu mengatasi tekanan darah tinggi atau hipertensi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa senyawa bioaktif Anthocyanin yang dikenal dengan sebutan flavonoid-lah yang memegang peranan penting dalam mengatasi hipertensi. Para peneliti mengatakan mereka yang mengonsumsi blueberry secara teratur dapat menstabilkan tekanan darah tinggi sampai dengan 10 %.


Pada penelitian ini sekitar 181 ribu orang diminta untuk mengisi kuesioner yang berisi pertanyaan mengenai kondisi kesehatan mereka selama dua tahun belakangan serta pola makan mereka selama empat tahun belakangan. Ditemukan mereka yang mendapatkan asupan flavonoid yang tinggi memiliki tekanan darah yang cukup stabil jika dibandingkan mereka yang tidak.
Para peneliti juga menemukan bahwa kandungan flavonoid dalam blueberry menempati posisi tertinggi dalam "kerajaan" buah-buahan. Bahkan kadar falavonoid dalam blueberry juga mengalahkan teh yang dikenal kaya akan kandungan zat tersebut.

"Yang menarik dari penelitian ini adalah kandungan anthocyanin ternyata memberikan kontribusi yang begitu besar dalam pencegahan hipertensi," kata Prof Aedin Cassidy, yang menjadi pimpinan penelitian.
(liputan6.com)

Semoga Artikel Tentang Kesehatan - Blueberry dapat Melawan Depresi dan Juga Hipertensi  ini bermanfaat

Selasa, 17 Agustus 2010

10 Kebiasaan Untuk Menghindari Stress Dan Depresi

10 Kebiasaan Untuk Menghindari Stress Dan Depresi
Ada beberapa kebiasaan yang dilakukan sehari-hari yang berguna untuk menghindari stress dan depresi. Tidak semua kebiasaan itu sering kita lakukan, tetapi jika kita bisa melakukannya, kemungkinan besar kita bisa menghindari stress dan depresi. Berikut adalah 10 kebiasaan yang bisa menghindari stress dan depresi sehingga kita bisa menjaga kesehatan mental kita.
  1. Menulis buku harian (diary). Menulis adalah cara yang baik untuk mengungkapkan perasaan. Dengan tanpa perlu kita memfilter setiap pemikiran, anda bebas mengungkapkan perasaan anda dalam bentuk tulisan. Anda tidak perlu takut untuk dinilai, dikritik, bahkan dikecam oleh orang lain. Hal ini memungkinkan anda untuk mengekspresikan emosi dan perasaan anda dengan bebas.
  2. Cukup tidur. Jika anda merasa kurang tidur malam, bisa ditambah dengan tidur siang yang singkat jika diperlukan. Tidur adalah saat yang baik bagi tubuh kita untuk memulihkan kondisi, perbaikan sistem kekebalan tubuh, kesempatan otak untuk istirahat dan regenerasi, dan juga menyimpan energi untuk hari berikutnya.
  3. Olahraga. Olahraga menghasilkan endorfin alami, yang membantu kita menempatkan diri dalam suasana hati yang baik. Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa olahraga meningkatkan suasana hati. Kemampuan otak untuk berpikir juga meningkat segera setelah olahraga.
  4. Minum banyak air putih. Dehidrasi sering diabaikan, padahal tubuh kita terdiri dari 95% air. Ketika tubuh mengalami dehidrasi, kita akan merasa lesu, pemarah, dan sakit kepala. Tubuh juga cenderung salah menafsirkan haus menjadi perasaan lapar, sehingga sering menjadi penyebab obesitas. Soft drink atau minuman dengan pemanis tidak dihitung sebagai air, sebaiknya minum air putih.
  5. Mendapatkan cukup vitamin D dan asam lemak omega 3 (omega-3 fatty acids). Vitamin D dan asam lemak omega-3 adalah nutrisi khusus yang membantu otak, namun sering kita tidak mendapatkan cukup dari makanan yang kita makan. Sekarang juga banyak produk tabir surya yang menghalangi penyerapan vitamin D pada kulit.
  6. Bersosialisasi. Saat ini sangat mudah untuk menjadi orang yang individualis karena kemajuan teknologi internet membuat segala sesuatu mudah dilakukan sendiri. Tetapi bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain sangat berguna bagi kesehatan mental kita. Walaupun hanya 1 jam sehari, bersosialisasi bisa meningkatkan mood kita.
  7. Meditasi atau berdoa. Banyak orang menganggap beribadah dan berdoa hanya sebagai suatu kewajiban. Tetapi beribadah dan berdoa memiliki efek sama baiknya dengan meditasi untuk kesehatan mental kita, yaitu membawa kita pada perasaan tenang dan damai.
  8. Bersyukur dan berterima kasih. Sering-sering mengucapkan kata syukur dan ucapan terima kasih kepada orang lain memberikan banyak dampak positif pada kehidupan kita. Pada dasarnya, pasti selalu ada sesuatu hal untuk disyukuri setiap harinya tidak peduli apapun keadaannya. Jika kita selalu berpikir positif, maka hal itu memberikan dampak yang positif pula pada kehidupan kita.
  9. Makan buah-buahan dan sayuran. Banyak mengkonsumsi buah dan sayur bisa memelihara tubuh kita, termasuk otak kita.
  10. Selalu tersenyum dan ramah terhadap orang lain. Ini mungkin hal yang paling sulit dilakukan. Seperti jika kita terjebak dalam rutinitas sehari-hari kita, bersikap baik dan selalu tersenyum menjadi semakin sulit. Segala permasalahan baik di rumah maupun di kantor memang berpengaruh pada kehidupan sosial kita. Namun jika kita bisa menyenangkan orang lain dengan senyum kita, apapun permasalahan yang sedang kita hadapi, pasti perasaan senang juga akan datang kepada kita dengan sendirinya.
Dengan melakukan 10 kebiasaan di atas, anda akan mampu menghindari stress dan depresi. Melakukan kebiasaan baik sangat penting untuk mengembangkan dan mempertahankan pikiran sehat.

Kamis, 15 April 2010

Gangguan Panik Dan Depresi Dapat Diobati Melalui Internet

Gangguan Panik Dan Depresi
Menurut sebuah tesis Jan Bergström di Karolinska Institutet, Swedia, Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behaviour Therapy / CBT) melalui internet sama efektif dalam mengobati gangguan panik seperti kelompok CBT berbasis tradisional. Hal ini juga berkhasiat dalam pengobatan depresi ringan dan sedang.

CBT berbasis internet juga lebih hemat biaya daripada terapi kelompok. Oleh karena itu, hasil tesis tersebut mendukung pengenalan pengobatan internet sebagai pengobatan psikiatri reguler, yang juga Dewan Nasional Kesehatan dan Kesejahteraan merekomendasikan pedoman baru untuk pengobatan depresi dan kecemasan.

Diperkirakan bahwa depresi mempengaruhi sekitar 15 persen dan gangguan panik 4 persen dari semua orang selama hidup mereka. Depresi dapat mencakup sejumlah gejala, seperti suasana hati yang rendah, kurangnya perasaan sukacita, rasa bersalah, kelesuan, kesulitan konsentrasi, insomnia dan semangat untuk hidup yang rendah. Gangguan panik menghalangi seseorang untuk memasuki tempat atau situasi sebelumnya yang terkait dengan panik. Gejala umum termasuk jantung berdebar, gemetar, mual dan perasaan bahwa sesuatu yang berbahaya akan terjadi.

Hal ini diketahui dari penelitian sebelumnya bahwa CBT adalah pengobatan yang efektif untuk gangguan panik dan depresi. Namun, menggunakan metode CBT masih memiliki banyak kekurangan, dan akses juga sangat bervariasi di Swedia dan juga di banyak negara lain. Oleh karena itu CBT berbasis internet telah dikembangkan, di mana pasien menjalani program mandiri berbasis internet dan memiliki kontak dengan terapis melalui email.

Tesis doktor ini termasuk suatu uji klinis acak dari 104 pasien dengan gangguan panik dan membandingkan efektivitas CBT berbasis internet dengan kelompok CBT dalam layanan kesehatan reguler. Hasil studi menunjukkan bahwa kedua perawatan bekerja sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya, baik setelah perawatan atau enam bulan tindak lanjut. Analisis hasil untuk pengobatan depresi menunjukkan bahwa CBT berbasis internet paling efektif jika diberikan sedini mungkin. Pasien dengan tingkat keparahan depresi yang lebih tinggi lebih sering episode depresi kurang diuntungkan dari perawatan Internet.

Minggu, 03 Januari 2010

Depresi

DEFINISI
Depresi adalah suatu perasaan sedih yang sangat mendalam, yang bisa terjadi setelah kehilangan seseorang atau peristiwa menyedihkan lainnya, tetapi tidak sebanding dengan peristiwa tersebut dan terus menerus dirasakan melebihi waktu yang normal.

Sekitar 10% orang yang mengunjungi dokter untuk keluhan psikisnya sesungguhnya menderita depresi. Depresi mulai timbul pada usia 20, 30 atau 40 tahun.

Suatu episode depresi biasanya berlangsung selama 6-9 bulan, tetapi pada 15-20% penderita bisa berlangsung sampai 2 tahun atau lebih. Episode depresi cenderung berulang sebanyak beberapa kali.

Depresi situasional adalah depresi yang terjadi setelah suatu peristiwa traumatik, seperti kematian orang yang dicintai. Holiday blues adalah depresi yang terjadi ketika sedang berlibur atau merayakan sesuat, bersifat sementara. Depresi endogenous adalah depresi tanpa penyebab yang pasti.

PENYEBAB
Penyebab depresi belum sepenuhnya dimengerti. Sejumlah faktor dapat menyebabkan seseorang cenderung menderita depresi:
- Faktor keturunan
- Efek samping dari obat-obatan tertentu
- Kepribadian introvert
- Peristiwa emosional (terutama kehilangan).

Depresi bisa terjadi atau semakin memburuk tanpa disertai stres kehidupan yang nyata ataupun berarti. Wanita dua kali lebih mudah terkena depresi, meskipun alasannya belum diketahui dengan jelas.

Penelitian jiwa memperlihatkan bahwa wanita cenderung memberikan respoon terhadap kesengsaraan dengan cara menarik diri dan menyalahkan dirinya sendiri. Sebaliknya, pria cenderung menolak atau mengalihkannya ke dalam berbagai kegiatan.

Faktor biologis yang paling banyak terlibat adalah faktor hormonal. Perubahan kadar hormon pada wanita memegang peranan penting; perubahan suasanan hati bisa terjadi sesaat sebelum menstruasi (ketegangan pre-menstruasi) dan setelah persalinan (depresi post-partum). Perubahan hormon serupa bisa terjadi pada wanita pemakai pil KB yang mengalami depresi.

Kelainan fungsi tiroid, yang sering terjadi pada wanita, juga merupakan faktor yang berperan dalam terjadinya depresi.

Depresi juga bisa terjadi karena atau bersamaan dengan sejumlah penyakit atau kelainan fisik. Kelainan fisik bisa menyebabkan depresi secara:
- Langsung, misalnya ketika penyakit tiroid menyebabkan berubahnya kadar hormon, yang bisa menyebabkan terjadinya depresi.
- Tidak langsung, misalnya ketika penyakit artritis rematoid menyebabkan nyeri dan cacat, yang bisa menyebabkan depresi.
Ada pula kelainan fisik yang menyebabkan depresi secara langsung dan tidak langsung. Misalnya AIDS; secara langsung menyebabkan depresi jika virus penyebabnya merusak otak; secara tidak langsung menyebabkan depresi jika menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan penderitanya.

Berbagai obat yang diresepkan (terutama obat yang digunakan untuk mengatasi tekanan darah tinggi) bisa menyebabkan depresi.

Sejumlah kelainan jiwa bisa menyebabkan penderitanya mengalami depresi (misalnya penyakit kecemasan, alkoholisme dan penyalahgunaan zat-zat lainnya, skizofrenia dan stadium awal demensia).

Kelainan Fisik yang Dapat Menyebabkan Depresi
  1. Efek samping obat-obatan
    - Amfetamin
    - Obat anti-psikosa
    - Beta bloker
    - Simetidin
    - Pil KB
    - Sikloserin
    - Indometasin
    - Air raksa
    - Metildopa
    - Reserpin
    - Talium
    - Vinblastin
    - Vinkristin
  2. Infeksi
    - AIDS
    - Influenza
    - Mononukleosis
    - Sifilis (stadium lanjut)
    - Tuberkulosis
    - Hepatitis virus
    - Pneumonia virus
  3. Kelainan hormonal
    - Penyakit Addison
    - Penyakit Cushing
    - Hiperparatiroidisme
    - Hipotiroidisme dan hipertiroidisme
    - Hipopituitarisme
  4. Penyakit jaringan ikat
    - Artritis rematoid
    - Lupus eritematosus sistemik
  5. Kelainan neurologis
    - Tumor otak
    - Cedera kepala
    - Sklerosis multipel
    - Penyakit Parkinson
    - Tidur apneu
    - Stroke
    - Epilepsi lobus temporalis
  6. Kelainan gizi
    - Pellagra (kekurangan vitamin B6)
    - Anemia pernisiosa (kekurangan vitamin B12)
  7. Kanker
    - Kanker perut (indung telur, usus besar)
    - Kanker yang menyebar ke seluruh tubuh.


GEJALA
Gejalanya muncul secara bertahap selama beberapa hari atau minggu. Penderita tampak tenang dan sedih atau mudah tersinggung dan cemas.

Pada depresi vegetatif, penderita cenderung menarik diri, jarang berbicara, tidak mau makan dan tidak mau tidur. Sedangkan penderita depresi agitasi tampak sangat gelisah, meremas-remas tangannya serta banyak berbicara.

Banyak penderita yang tidak dapat merasakan emosi duka cita, gembira dan senang secara normal; dunia tampak semakin suram, tidak ada kehidupan dan mati. Berfikir, berbicara dan kegiatan umum lainnya semakin berkurang, sehingga aktivitas volunter terhenti sama sekali.

Fikirannya dipenuhi oleh perasaan bersalah dan memiliki gagasan untuk menghancurkan dirinya sendiri, serta tidak dapat berkonsentrasi dengan baik. Mereka sering bimbang dan menarik diri, merasa tak berdaya dan putus asa serta berfikir tentang kematian dan bunuh diri.

Penderita mengalami sulit tidur dan seringkali terbangun, terutama pada dini hari.
Gairah dan kenikmatan seksualnya hilang. Nafsu makan yang buruk dan penurunan berat badan kadang menyebabkan penderita menjadi kurus dan siklus menstruasinya berhenti (pada wanita).

Pada depresi yang lebih ringan, penderitanya makan sangat banyak dan terjadi penambahan berat badan.

Pada sekitar 20% penderita, gejalanya lebih ringan tetapi berlangsung selama bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun. Depresi disritmik ini seringkali muncul pada awal kehidupan dan berhubungan dengan perubahan kepribadian yang nyata.
Penderita tampak muram, pesimis, tidak suka bercanda atau tidak mampu merasakan kesenangan; pasif dan letargis; introvert; curiga, suka mengkritik dan sering menyesali dirinya sendiri.

Fikiran penderita dipenuhi dengan kekurangan, kegagalan dan peristiwa negatif, kadang sampai menikmati kegagalan mereka sendiri.

Beberapa penderita mengeluhkan penyakit fisik, berupa sakit dan nyeri atau ketakutan akan musibah atau menjadi gila. Penderita lainnya berfikir bahwa mereka menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau yang memalukan (misalnya kanker atau penyakit menular seksual), dan mereka menularkannya kepada orang lain.

Sekitar 15% penderita (terutama pada depresi berat), mengalami delusi (keyakinan yang palsu) atau halusinasi, yaitu melihat atau mendengar benda yang sesungguhnya tidak ada.

Mereka yakin bahwa mereka melakukan dosa atau kejahatan yang tidak dapat dimaafkan, atau mereka mendengar suara-suara yang menuduh mereka telah melakukan berbagai perbuatan yang tidak senonoh atau suara-suara yang mengutuk mereka supaya mati.
Kadang penderita membayangkan bahwa mereka melihat peti mati dan orang-orang yang sudah meninggal.

Perasaan tidak aman dan tidak berharga bisa menyebabkan depresi yang sangat berat pada penderita yang yakin bahwa mereka diawasi dan dihukum. Depresi yang disertai dengan delusi dinamakan depresi psikotik.

Gejala depresi yang paling serius adalah pemikiran tentang kematian. Banyak penderita yang ingin mati atau merasa mereka sangat tidak berguna sehingga mereka sepantasnya mati. Sebanyak 15% penderita menunjukkan perilaku bunuh diri. Rencana bunuh diri merupakan keadaan yang gawat, dan penderitanya harus dirawat dan diawasi secara ketat, sampai keinginannya untuk bunuh diri hilang.


DIAGNOSA
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan tanda-tanda dan gejalanya. Riwayat depresi sebelumnya atau riwayat keluarga dengan depresi bisa memperkuat diagnosis.

Untuk membantu menentukan beratnya depresi kadang digunakan pertanyaan standar berikut:
- Skala Penilaian Depresi Hamilton, pertanyaan diarahkan secara verbal oleh penanya
- Kuosioner Depresi Beck, pertanyaan diisi sendiri oleh penderita.

Pemeriksaan darah bisa membantu menentukan penyebab depresi. Hal ini terutama dilakukan pada penderita wanita, dimana faktor hormonal bisa menyebabkan terjadinya depresi.

Pada kasus-kasus yang sulit, bisa dilakukan pemeriksaan lainnya untuk memperkuat diagnosa. Gangguan tidur adalah gejala depresi yang khusus. Ensefalogram tidur bisa dilakukan guna mengukur waktu yang diperlukan penderita untuk sampai pada tahap tidur REM (periode tidur selama terjadinya mimpi). Dalam keadaan normal diperlukan waktu sekitar 90 menit, pada penderita depresi biasanya hanya diperlukan waktu 70 menit atau kurang.


PENGOBATAN
Pada saat ini pengobatan depresi tidak memerlukan perawatan di rumah sakit.
Penderita yang harus dirawat di rumah sakit adalah penderita yang:
- memiliki kecenderungan bunuh diri atau merencanakan tindakan bunuh diri
- terlalu lemah karena berat badannya turun
- memiliki resiko terjadinya kelainan jantung karena penderita sangat gelisah.

Pemberian obat-obatan merupakan langkah utama dalam mengobati depresi sekarang ini. Pengobatan lainnya adalah psikoterapi dan terapi elektrokonvulsif. Kadang digunakan kombinasi dari ketiga terapi tersebut.

Obat-obatan.

Tersedia beberapa jenis obat-obatan yang harus diminum secara teratur minimal selama beberapa minggu sebelum obat mulai bekerja.
  1. Anti-depresi trisiklik.
    Sering menimbulkan efek samping berupa mengantuk dan penambahan berat badan.
    Obat ini juga menyebabkan peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan darah ketika penderita berdiri, pandangan kabur, mulut kering, linglung, sembelit, kesulitan untuk memulai berkemih dan orgasme yang tertunda. Efek ini disebut efek antikolinergik, yang lebih sering terjadi pada usia lanjut.
    Anti-depresi yang mirip dengan trisiklik memiliki efek samping yang berbeda:
    - Venlafaksin bisa menyebabkan kenaikan tekanan darah yang ringan
    - Trazodon menyebabkan priapisme (nyeri ketika ereksi)
    - Maprotilin dan bupropion bisa menyebabkan kejang.
  2. Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs).
    Efek sampingnya lebih sedikit dan biasanya lebih aman digunakan pada penderita depresi yang disertai kelainan jiwa.
    Efek samping yang terjadi berupa mual, diare dan sakit kepala; yang sifatnya ringan dan akan segera menghilang jika pemakaian obat dilanjutkan.
    SSRIs efektif digunakan pada depresi yang disertai oleh kelainan jiwa berikut:
    - Distimia, yang memerlukan pemberian jangka panjang
    - Penyakit obsesif-kompulsif
    - Penyakit panik
    - Fobia sosial
    - Bulimia.
    Kerugian utama dari SSRIs adalah sering menyebabkan kelainan fungsi seksual.
  3. Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs).
    Penderita yang meminum obat golongan MAOIs harus menjalani sejumlah pengaturan diet dan larangan tertentu.
    Mereka sebaiknya tidak mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung tiramin, misalnya bir, anggur merah (termasuk sherry), kopi manis, makanan yang terlalu matang, salami, keju tua, ekstrak jamur dan kecap.
    Mereka harus menghindari obat-obatan seperti fenilpropanolamin dan dekstrometorfan, yang menyebabkan pelepasan adrenalin dan menyebabkan peningkatan tekanan darah yang hebat secara tiba-tiba. Obat lainnya yang juga harus dihindari adalah anti-depresi trisiklik, SSRIs dan meperidin (pereda nyeri).
    Penderita yang meminum MAOIs biasanya diharuskan membawa obat penawar (misalnya klorpromazin atau nifedipin) setiap saat. Jika timbul nyeri kepala berdenyut dan hebat, maka obat penawar ini harus diminum dan segera pergi ke rumah sakit terdekat.
    MAOIs jarang digunakan karena menimbulkan kesulitan dalam pembatasan diet dan larangan tertentu, sehingga hanya diberikan kepada penderita yang tidak menunjukkan perbaikan dengan anti-depresi lainnya.
  4. Psikostimulan (perangsang psikis).
    Contohnya adalah metilfenidat, yang biasanya diberikan kepada penderita yang menarik diri, tenang dan mengalami kelelahan atau penderita yang tidak menunjukkan perbaikan pada pemberian obat anti-depresi lainnya.
    Psikostimulan cenderung bekerja dengan cepat (dalam 1 hari), sehingga kadang diberikan kepada penderita depresi usia lanjut yang baru menjalani pembedahan atau menderita penyakit yang berkepanjangan.

Psikoterapi.
Psikoterapi yang dijalankan bersamaan dengan pemberian anti-depresi memberikan hasil yang lebih baik.

Psikoterapi individual maupun kelompok bisa membantu penderita secara bertahap untuk memulai kembali tanggung jawabnya yang dahulu dan menyesuaikan diri dengan tekanan kehidupan yang normal. Pada psikoterapi interpersonal, penderita menerima dukungan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dalam hidupnya.

Terapi kognitif bisa membantu merubah fikiran negatif dan rasa putus asa.

Untuk depresi yang lebih ringan, psikoterapi saja bisa sama efektifnya dengan terapi obat-obatan.

Terapi Elektrokonvulsif.

Terapi elektrokonvulsif (ECT) digunakan untuk mengatasi depresi berat, terutama pada:
- penderita psikotik
- penderita yang mengancam akan melakukan bunuh diri
- penderita yang tidak mau makan.

Terapi ini biasanya sangat efektif dan bisa segera meringankan depresi.

Elektroda dipasang di kepala dan aliran listrik diberikan untuk merangsang kejang di dalam otak. Untuk alasan yang tidak dimengerti, kejang ini menyebabkan berkurangnya depresi. Pengobatan dilakukan sebanyak 5-7 kali.

Aliran listrik bisa menyebabkan kontraksi otot dan nyeri, sehingga penderita dibius total selama pengobatan. ECT bisa menyebabkan hilangnya ingatan untuk sementara waktu.


PROGNOSIS
Jika tidak diobati, depresi bisa berlangsung sampai 6 bulan atau lebih.Gejala yang ringan bisa menetap, tetapi fungsi penderita cenderung kembali normal. Sebagian besar penderita mengalami episode depresi berulang, sekitar 4-5 kali sepanjang hidupnya.

Minggu, 04 Januari 2009

Mengatasi Depresi Pada Anak

Depresi Pada Anak
Anak Anda yang berusia 3 tahun ternyata tidak seriang biasanya, ia tidak ‘ceriwis’ saat pagi tiba, bukan tidak mungkin ia juga menolak untuk makan.

Daripada bercanda bersama saudara-saudaranya, atau menggambar di bukunya, ia cenderung berada di tepi jendela sambil menatap kosong ke luar, mungkinkah seorang balita mengalami depresi?

Seperti kebanyakan orang lainnya, Anda mungkin berasumsi kalau anak pra sekolah terlalu kecil untuk merasa sedih. Tapi ada penelitian terbaru yang menyatakan bahwa depresi klinis itu ternyata tidak mengenal usia. Depresi – bahkan keinginan untuk bunuh diri – sama berpengaruhnya pada balita dan remaja seperti pada orang dewasa.

Para peneliti di Washington University School of Medicine, mengemukakan bahwa anak-anak mengalami symptom depresi yang sama seperti yang sering ditemukan pada orang dewasa, bahkan sama tingkat keparahannya. Menurut the National Mental Health Association, satu dari tiga anak di Amerika menderita depresi. Namun, walaupun sudah berbicara mengenai statistik, depresi tetap merupakan penyakit yang tak terdeteksi dan tak terawat antara anak-anak dan remaja.

Tidak seperti bintik-bintik merah pada penyakit campak, atau hidung yang memerah pada penyakit flu, simptom depresi tidaklah terlalu kongkrit, dan sebagai konsekuensinya, seringkali hal ini tidak terdeteksi oleh orang tua.

Apa sih tanda-tanda depresi kanak-kanak? Apa saja perilaku yang perlu diawasi oleh orang tua? Biasanya anak-anak yang menderita depresi secara persisten selalu terganggu, menarik diri, dan lethargic, kata Dr Elizabeth Rody, direktur medis serta psikiater anak dan remaja untuk Magellan Behavioral Health di New Jersey.

Anak yang depresi juga kehilangan minat untuk melakukan kegiatan yang sebelumnya sangat mereka sukai, sementara simptom lainnya meliputi :
  • Tangis terus menerus dan kesedihan persisten
  • Kurangnya antusiasme atau motivasi
  • Meningkatnya kemarahan
  • Kelelahan kronis atau kekurangan energi
  • Menarik diri dari keluarga, teman dan aktivitas yang tadinya disukai
  • Perubahan kebiasaan makan dan tidur (adanya kenaikan atau penurunan berat tubuh yang terlihat jelas, suka sekali tidur, sulit tidur)
  • Keluhan yang sangat sering mengenai masalah fisik, seperti sakit perut atau pusing
  • Kurangnya konsentrasi dan suka lupa
  • Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan
  • Sensitifitas berlebihan sampai penolakan atau kegagalan
  • Perkembangan mayor yang tertunda (pada balita – tidak berjalan, berbicara atau mengekspresikan diri )
  • Bermain yang melibatkan kekerasan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, atau dengan tema yang sedih.
  • Seringnya muncul pembicaraan mengenai kematian atau bunuh diri.
Tidaklah biasa bagi anak-anak untuk tetap merasa bersedih dari waktu ke waktu. Dengan mengetahui ini, bagaimana orang tua dapat membedakan fluktuasi mood normal dari depresi yang serius? Jawabannya adalah pada durasi dari perilaku depresif tersebut.

Menurut Mental Health : A Report of the Surgeon General, anak-anak depresi mengalami episode depresi yang biasanya bertahan dari tujuh sampai sembilan bulan, meskipun beberapa ahli perkembangan anak yang mengatakan bahwa perilaku depresif yang bertahan lebih dari dua minggu memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Tapi bagaimana pun juga, paling baik adalah untuk membiarkan profesional di bagian kesehatan mental untuk memutuskannya.

Depresi bukanlah satu-satunya alasan adanya perilaku ‘nakal’ anak. Masalah fisiologis, seperti malnutrisi, mononucleosis, alergi dan penyakit lainnya dapat menimbulkan mood yang marah-marah, keletihan dan penarikan diri. Ini mengapa Rody menekankan bahwa orang tua harus membawa anak mereka kepada dokter keluarga terlebih dulu, sebelum membuat janji dengan seorang profesional kesehatan mental.

Bila ternyata anak Anda bukan mengalami masalah kesehatan umum, maka langkah selanjutnya adalah untuk membuat janji dengan psikiater atau psikolog anak dan remaja untuk evaluasi. Sebagai tambahan dari serangkaian tes psikologis dan kerja darah, orang tua juga harus siap untuk me-review seluruh sejarah kesehatan anak.

Meskipun penyebab pasti dari depresi kanak-kanak tidak juga diketahui, penelitian depresi pada orang dewasa menyatakan bahwa tergantung pada predisposisi genetis dan pengaruh lingkungan. "Sebagian dari lingkungan dan genetik," kata Rody. "Bila dibandingkan antara depresi dengan penyakit jantung. Anda dapat memiliki sejarah sakit jantung di keluarga dan pada waktu yang sama Anda tidak menjaga pola hidup Anda. Keduanya mungkin menyebabkan Anda terkena serangan jantung. Depresi juga seperti itu, disebabkan oleh kombinasi kompleks dari berbagai faktor."

Anak-anak yang orang tua atau/dan saudaranya menderita depresi lebih mungkin mengembangkan simptom penyakit ini. Tidak mampu belajar (Learning disabilities), seperti tidak mampu berkonsentrasi/hiperaktif, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan disleksia juga berkontribusi pada timbulnya depresi kanak-kanak. Faktor lingkungan yang membuat anak-anak berisiko menderita gangguan depresi meliputi pelecehan fisik, seksual, dan verbal, anak yang terlantar dan adanya sejarah pemakaian obat-obatan dalam keluarga.

Perceraian serta kehilangan orang yang dicintai juga dapat menimbulkan emosi yang labil pada anak-anak, tapi tidak selalu merupakan penyebab depresi.

Meskipun anak Anda baru balita, emosinya sangatlah nyata. Para ahli percaya bahwa makin banyak orang tua memberi perhatian pada perasaan anaknya, maka makin baiklah kemampuannya untuk mencari bantuan pada depresi. "Jika anak Anda mengatakan, ‘saya sangat sedih dan ingin lompat dari jendela’, sebaiknya Anda memandang perkataan ini secara serius, " kata Rody memperingatkan.

Tanyakan pada anak Anda hal-hal di bawah ini untuk mengetahui penyebab kesedihan anak Anda :
  • Apa yang terjadi hari ini sehingga kamu sangat sedih?
  • Apa yang membuat kamu bahagia?
  • Apa sih yang kamu cari?
  • Apa yang kamu inginkan terjadi padamu?
  • Jika kamu dapat mengubah dirimu, apa yang ingin kamu ubah?
Perawatan bagi anak dan remaja yang menderita depresi termasuk kombinasi dari psikoterapi individu dan konseling keluarga. Supaya optimal, menurut Rody, terapi haruslah melibatkan orang tua, saudara dan orang yang penting dalam kehidupan sang anak, seperti guru dan kakek-nenek.

Perawatan lainnya meliputi terapi bermain, evaluasi berkelanjutan dan pada beberapa kasus, menggunakan obat. Obat antidepresi seringkali digunakan untuk merawat kasus depresi menengah. Yang penting juga, belumlah diijinkan untuk memberikan obat antidepresi pada anak di bawah usia 8 tahun.

Minggu, 19 Oktober 2008

Depresi Memperparah Penyakit Jantung

Depresi Memperparah Penyakit Jantung
Depresi atau penyakit suasana hati ternyata tidak boleh dianggap enteng. Bila muncul bersamaan dengan penyakit jantung koroner atau stroke, depresi cenderung akan memperparah kondisi penyakit, bahkan dapat memicu terjadinya kematian.

Depresi memiliki hubungan timbal balik dengan penyakit non-infeksi seperti jantung dan stroke. Depresi yang hadir bersamaan dengan jenis penyakit tersebut, dapat meningkatkan risiko kematian (mortalitas) dan memperparah derajat kesakitan (morbiditas).

Studi-studi tentang depresi pada pasien penyakit jantung menunjukkan angka prevalensi sebesar 18 hingga 60 persen. Studi-studi epidemiologis juga menunjukkan peningkatan angka mortalitas pasien penyakit jantung akibat menderita pula depresi.

Proporsi terbesar dari gangguan depresi ditemukan pada penderita yang mengalami penyumbatan pada pembuluh darah jantung (infark miokard akut/AMI) sebesar 69 persen. Juga didapatkan hubungan bermakna antara depresi, stresor psikososial dan derajat keparahan AMI.

Pada penyakit-penyakit menahun, depresi juga akan menambah progresivitas dan menimbulkan kecacatan / mengancam kematian terutama pada penyakit-penyakit pasca stroke dan jantung koroner.

Depresi yang dialami pasien stroke juga berpeluang cukup tinggi untuk meningkatkan risiko mortalitas. Depresi pada pasien stroke menunjukkan prevalensi sekitar 27-45 persen. Pada penderita stroke, depresi akan memperlambat proses penyembuhan, memperberat gejala fisik, mengganggu rehabilitasi, dan meningkatkan angka kematian.

Depresi merupakan penyakit serius yang diderita oleh jutaan orang dengan berbagai macam gejala. Depresi dapat menyebabkan seseorang merasa bersalah tanpa alasan yang jelas. Depresi dapat menjadikan seseorang merasa tidak berguna, meskipun telah melakukan apa saja yang menurutnya adalah yang terbaik.

Depresi juga dapat menyebabkan seseorang tidak berminat terhadap hal-hal yang sebelumnya amat dia sukai. Selain itu depresi membuat energi terkuras, sehingga lekas merasa letih dan lelah.

Penanganan yang komprehensif terhadap penderita penyakit jantung iskemik dan stroke sangat perlu untuk memberikan perhatian pada pengelolaan depresi. Pengelolaan yang benar terhadap depresi merupakan faktor yang penting untuk tercapainya pemulihan yang optimal.

Sebaiknya, pengelolaan depresi dan pemulihan pasien dan penyakit jantung dan stroke melibatkan tim terpadu interdisipliner, yang terdiri atas dokter ahli penyakit jantung, penyakit saraf, psikiater, rehabilitasi medik, psikolog, dan pekerja sosial.

Oleh karena itu, penanganan masalah penyakit jantung dan stroke harus ditinjau secara menyeluruh sehingga penatalaksanaan akan memberikan hasil yang optimal.

Senin, 06 Oktober 2008

Konflik Keluarga Bisa Membuat Anak Trauma dan Depresi

Konflik Keluarga
Setiap konflik dalam keluarga (pertengkaran orang tua), pasti mempengaruhi pola pikir dan kelakuan anak. Apa lagi jika konflik tersebut diperlihatkan di depan anak. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi psikis anak dalam konflik rumah tangga. Seperti besarnya konflik, usia anak dan jenis kelamin anak (anak perempuan biasa lebih sensitif ketimbang anak laki-laki).

Apabila konflik yang terjadi masih kecil, orang tua pasti mampu menutupinya. Dan, anak tidak akan mengetahui masalah itu karena orangtua tidak memperlihatkan konflik di depan anak. Kecuali jika konflik sudah membesar dan orang tua tidak dapat menutupinya dari anak, akan sangat berpengaruh pada mental anak.

Konflik berkepanjangan yang terjadi pada keluarga akan membawa dampak psikologis anak saat mereka remaja. Ketika anak masih balita, mereka belum merasakan apa-apa. Namun memori otaknya akan tetap merekam setiap peristiwa yang mereka alami, meski hanya seperti mimpi. Bayang-bayang ini akan semakin jelas terpateri dalam pikiran mereka ketika beranjak remaja. Karena pada saat itu, mereka mulai mengerti realita kehidupan.

Tekanan psikis tersebut akan berujung pada depresi dan trauma bagi anak. Depresi biasanya berkelanjutan. Anak yang mengalami depresi, selalu menganggap dirinya tidak berguna atau merasa tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka kemudian mengaitkan kekurangan diri, baik dalam bentuk materi maupun fisik dengan setiap kejadian di lingkungannya. Bahkan ada anak yang menggunakan obat-obat terlarang atau merasa ingin bunuh diri untuk mengakhiri penderitaannya.

Sementara trauma, lebih condong pada ketakutan terhadap diri sendiri dan lingkungan. Misalnya, seorang anak yang takut akan kekerasan, akan merasa ketakutan saat mendengar suara keras. Ia juga merasa ketakutan saat melihat kerumunan orang banyak.

Untuk membantu anak-anak yang mengalami depresi dan trauma karena konflik orang tua, sebaiknya melibatkan pihak ketiga. Dorongan bisa diberikan oleh orang dewasa di lingkungan keluarga besar, pembantu atau guru. Hal ini dilakukan kalau orang tuanya sudah tidak sanggup lagi memotivasi anaknya untuk bisa sembuh dari trauma dan depresi. Orang-orang ini dianggap pantas memberikan motivasi karena lebih mengetahui keseharian anak dibandingkan yang lain. Selain itu, usia mereka yang dewasa, diharapkan mampu menilai konflik dengan kepala dingin.

Segala tindakan orang tua dalam menghadapi konflik akan membuat anak meniru apa yang mereka lakukan. Seperti caci maki, tindak kekerasan dan pengusiran. Anak-anak akan melakukan hal yang sama karena mereka melihat itu dari orang tuanya. Namun jika mereka tidak berhasil, mereka akan memadukan cara yang ditempuh orang tuanya dengan cara yang mereka anggap dapat diterima akal dan pikirannya.

Jika orang tua akhirnya harus bercerai, sebaiknya anak diberi kebebasan untuk memilih sendiri, mereka mau ikut siapa. Karena anak mampu memilih mana yang terbaik. Terbaik disini bukan baik dari segi materi atau konsep yang diberikan dalam menjalankan fungsi orang tua, melainkan rasa aman dan nyaman.

Pengadilan Agama diharapkan juga mampu memutuskan yang terbaik untuk anak, bukan atas desakan orang tua saat persidangan. Kepada orang tua yang dipilih oleh anak atau pengadilan untuk mengasuh anak-anaknya, sebaiknya jangan mengekang mereka dengan pengaturan waktu kunjungan pasangan yang terlalu ketat. Karena anak akan merasa senang jika orang tua berada di sisinya, meski sudah bercerai.