Kamis, 26 Maret 2009

Olahraga dan Resiko Kanker Payu Dara: Belum Terlambat.

Olahraga teratur sangat penting untuk kesehatan tubuh, mencegah dan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit mulai dari osteoporosis hingga penyakit jantung. Namun, ketika terjadi kanker payu dara (breast cancer), para ahli bidang kesehatan belum menyepakati apakah olahraga benar-benar mampu mengurangi atau menurunkan resiko berkembangnya kanker payu dara. Kajian atau penelitian pada topik ini menyatakan setuju dan tidak setuju, tapi penelitian terbaru membantu memberikan gambaran mengapa?. Dengan mempertimbangkan semua jenis dan tipe kanker payu dara sebagai satu penyakit tunggal dan dengan menyatukan aktifitas fisik pada semua titik selama seorang wanita tersebut hidup, para peneliti mengalami kehilangan hubungan penting antara kedua faktor tersebut.

Apa, kapan dan mengapa?

Para ahli kesehatan mngetahui bahwa tidak semua kanker payu dara itu sama. Sebagai contoh, beberapa kanker payu dara akan tumbuh lebih cepat dalam merespon adanya hormon-hormon yang terjadi secara alami di dalam tubh, seperti estrogen dan progesteron, dan disebut sebagai kanker payu dara estrogen reseptor positif (ER+) dan/atau kanker payu dara progesteron reseptor positif (PR+).

Kanker payu dara yang tidak merespon terhadap hormon-hormon tersebut disebut kanker estrogen reseptor negatif (ER-) dan/atau progesterone reseptor negatif (PR-). Perbedaan tersebut merupakan hal penting karena perbedaan itu membantu para peneliti memahami mengapa dalam diri seorang wanita berkembang kanker payu dara, perbedaan itu juga membantu para dokter dalam memberikan pengobatan terbaik pada tiap jenis kanker payu dara.

Para peneliti jerman telah meneliti sejumlah 3.414 wanita yang telah menopause (post menopausal) dengan kanker payu dara sebagai kelompok kasus dan sejumlah 6.569 orang wanita tanpa kanker payu dara sebagai kelompok kontrol untuk menentukan bagaimana aktifitas fisik pada waktu yang berbeda pada seorang wanita mempengaruhi resiko mereka terhadap jenis kanker payu dara. Mereka ditanya tentang aktifitas fisik rekreasi dan non rekreasi (termasuk pekerjaan dan aktifitas rumah tangga) antara usia 39 dan 49 serta setelah mereka berusia 50 tahun.

Para peneliti menemukan bahwa, pada wanita yang tercatat dengan tingkat aktifitas fisik rekreasi paling tinggi (olahraga) setelah usia 50 tahun disimpulkan dapat mengurangi resiko berkembangnya kanker payu dara post menopausal sekitar 29%, kanker ER+/PR+, dimana jenis kanker ini adalah kanker yang paling sering terjadi dan berkembang dibandingkan dengan wanita dengan aktifitas fisik paling sedikit setelah usia 50 tahun. Apapun jenis aktifitas fisik, rekreasi ataupun tidak, antara usia 30 dan 49 tahun tidak terlihat adanya pengaruh pada resiko kanker payudara postmenopausal. Untuk jenis kanker payu dara selain ER+/PR+, aktifitas fisik secara teratur tidak menurunkan resiko keduanya.

Hasil penelitian juga menghasilkan, sekitar 75 % dari semua kanker payu dara ER+ dan 2/3 diantaranya adalah juga PR+. Hal ini berarti bahwa aktifitas fisik secara teratur setelah usia 50 tahun, bahkan apabila seorang wanita yang dulunya belum pernah banyak berolahraga, hampir dapat mengurangi atau menurunkan resiko mereka dari berkembangnya jenis kanker yang paling sering terjadi sebesar satu banding 3 atau 1:3 atau 1/3

Berapa lama internsitas aktifitas fisik/olahraga yang dianjurkan?

Pada kajian atau penelitian ini, kelompok dengan aktifitas fisik paling tinggi melakukannya sekitar 2.5 jam aktifitas berjalan dengan kecepatan sedang setiap hari. Ini mungkin terlihat banyak sekali waktu yang digunakan untuk berolahraga, tapi untunglah, seperti apa atau bagaimana wanita beraktifitas tidak terlihat berarti. Waktu 2.5 jam berjalan tersebut hanya semata-mata untuk tujuan perbandingan. Para peneliti secara sederhana menjumlahkan semua aktifitas rekreasi, yang mengandung maksud bahwa anda tidak perlu melakukan aktifitas harian anda selama 2.5 jam dalam suatu waktu.

Suatu contoh, aktifitas fisik ringan, sederhana, seperti jalan santai, berkebun, atau bermain dengan anak-anak anda dan tidak terpaku pada jumlah waktu . Para peneliti juga mencatat sebuah trend atau kecenderungan menurunnya insidensi atau angka kejadian kanker payu dara yang dihubungkan dengan meningkatnya jumlah aktifitas olahraga yang dilakukan, hal ini menjelaskan kepada kita bahwa apapun olahraga yang dilakukan itu lebih baik daripada tidak berolahraga sama sekali. Untuk mendapatkan keuntungan maksimal, cobalah utuk berolahraga sebanyak mungkin dan siap melakukannya setiap hari (apabila mungkin), jangan sampai kelelahan.

Apa pesan terpenting dari penelitian ini?
  1. Tidak pernah ada kata terlambat untuk meningktkan, memperbaiki kesehatan anda dengan berolahraga.
  2. Jadilah seorang yang aktif dengan dan dalam berbagai macam kemungkinan cara untuk kesehatan yang lebih baik.
Sumber: Suzanne Dixon, MPH, MS, RD, seorang penulis dan pembicara dan ahli dibidang pencegahan penyakit kronis, epidemiologi, dan nutrisi, pengajar ilmu bidang medis, keperawatan, kesehatan masyarakat dan perkuliahan alternatif medis. (University of Michigan, School of Public Health at Ann Arbor).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar