Kamis, 21 Januari 2010

Masalah dengan Lendir Pada Servik

DEFINISI
Biasanya, lendir pada servik (bagian bawah pada rahim yang terbuka ke dalam vagina) menebal dan tidak dapat ditembus sampai hanya sebelum melepaskan sel telur (ovulasi). Kemudian, hanya sebelum ovulasi, lendir menjadi bening dan elastis (karena kadar hormon estrogen meningkat). Akibatnya, sperma bisa bergerak melalui lendir ke dalam rahim menuju tuba falopi, dimana pembuahan bisa terjadi.

Jika lendir tidak berubah pada ovulasi (biasanya karena sebuah infeksi), kehamilan tidak mungkin, kehamilan juga tidak mungkin jika lendir mengandung antibodi sperma, yang membunuh sperma sebelum mereka dapat mencapai sel telur.


DIAGNOSA
Tes postcoital, dilakukan diantara 2 dan 8 jam setelah hubungan seksual, meliputi penelitian lendir servik dan memastikan apakah sperma bisa bertahan di dalam lendir. Tes tersebut dijadwalkan pada tengah-tengah siklus menstruasi, ketika kadar estrogen sangat tinggi dan wanita tersebut sedang ovulasi. Contoh lendir diambil dengan forcep atau syringe.

Penebalan dan keelastisan lendir dan jumlah sperma pada lendir dipastikan. Hasil yang tidak normal termasuk lendir yang terlalu tebal, tidak terdapat sperma, dan sperma dan gumpalan bercampur karena lendir mengandung antibodi sperma. Meskipun begitu, hasil yang tidak normal tidak selalu mengindikasi bahwa terdapat masalah pada lendir atau bahwa kehamilan bisa terjadi, sperma bisa tidak hadir hanya karena mereka tidak tersimpan di dalam vagina selama hubungan seks, dan lendir kemungkinan terlalu tebal hanya karena tes tidak menunjukkan waktu yang sesuai pada siklus menstruasi.


PENGOBATAN
Pengobatan bisa termasuk inseminasi intrauterine, dimana semen diletakkan langsung di dalam rahim untuk memotong lendir. Obat-obatan untuk menipiskan lendir, seperti guaifenesin, kemungkinan digunakan. Meskipun begitu, tidak terdapat bukti bahwa pengobatan apapun meningkatkan kesempatan pada kehamilan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar