Jumat, 08 Januari 2010

Penyebaran Vaksin Malaria Melalui Nyamuk

Nyamuk Malaria
Ilmuwan Eropa akhir-akhir ini melakukan penelitian yang sangat berani dengan menyebar parasit malaria melalui perantara nyamuk. Hasil yang didapat dari penelitian tersebut adalah bahwa setiap orang yang telah menerima vaksin malaria sebelum mendapatkan gigitan nyamuk, kebal terhadap parasit malaria. Sedangkan yang belum mendapatkan vaksin malaria, tidak kebal dan berkembang menjadi penyakit malaria.

Memang penelitian yang dilakukan tersebut merupakan penelitian kecil yang tidak dapat digolongkan dalam penelitian yang teruji. Namun hasil penelitian tersebut menunjukkan titik cerah dalam pengembangan vaksin malaria yang efektif melawan salah satu penyakit yang mematikan.

Menurut Dr. Carlos Campbell dari Program for Appropriate Technology in Health (PATH), yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine, "Seluruh parasit malaria merupakan agen imunisasi yang paling ampuh, meskipun lebih sulit untuk mengembangkannya".

Malaria membunuh hampir satu juta orang setiap tahun, kebanyakan anak-anak di bawah 5 dan terutama di Afrika. Nyamuk menyebarkan parasit malaria immature melalui gigitan, dan parasit menuju ke hati dimana parasit menjadi mature dan berkembang biak. Kemudian, parasit memasuki aliran darah dan menyerang sel darah merah, fase yang membuat orang menjadi sakit malaria.

Seseorang dapat memiliki kekebalan tubuh terhadap malaria jika terserang berkali-kali. Dan obat chloroquine dapat membunuh parasit dalam aliran darah fase akhir, fase yang paling berbahaya. Disini peneliti mencoba mengambil keuntungan dari kedua faktor tersebut, dengan menggunakan chloroquine untuk melindungi tubuh sementara, dan secara bertahap tubuh di-ekspos dengan parasit malaria dan membiarkan kekebalan tubuh berkembang.

Penelitian melibatkan 10 relawan yang diberi nama kelompok vaksin dan 5 relawan lain sebagai kelompok pembanding. Semua diberi chloroquine selama 3 bulan, dan sebulan sekali mereka diberi gigitan nyamuk; kelompok vaksin diberi gigitan nyamuk pembawa parasit malaria, sedangkan kelompok pembanding diberi gigitan nyamuk yang tidak terinfeksi parasit malaria.

Setelah 3 bulan, semua 15 relawan berhenti diberi chloroquine. 2 bulan kemudian, semua diberi gigitan nyamuk yang terinfeksi malaria. Hasilnya, tak satu pun dari 10 relawan kelompok vaksin menjadi sakit malaria, sedangkan semua 5 relawan kelompok pembanding menjadi sakit malaria.

Penelitian ini dilakukan di laboratorium Universitas Radboud di Nijmegen - Belanda, dan didanai oleh dua yayasan, juga pemerintah Perancis. Menurut Dr. Robert Sauerwein, salah seorang peneliti, "Ini bukan vaksin seperti pada produk-produk komersial, tetapi cara untuk menunjukkan bagaimana seluruh parasit dapat digunakan sebagai vaksin untuk melindungi tubuh terhadap penyakit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar