Kamis, 14 Januari 2010

Persalinan

DEFINISI
Persalinan adalah rangkaian dari ritme, kontraksi progresif pada rahim yang biasanya memindahkan janin melalui bagian bawah rahim (servik) dan saluran lahir (vagina) menuju dunia luar.

Tahapan Pada Persalinan

TAHAP PERTAMA

Dari awal persalinan menuju pembukaan penuh (dilation) pada servik-sekitar 4 inci (10 cm).

Fase inisial (latent)
  • Kontraksi menjadi semakin kuat dan semakin berirama.
  • Sedikit rasa tidak nyaman .
  • Servik menipis dan membuka sekitar 1 ½ inci (4 cm).
  • Fase ini berlangsung rata-rata pada 12 jam pada kehamilan pertama dan 5 jam pada kehamilan berikutnya.

Fase aktif
  • Servik membuka dari sekitar 1 ½ inci (4 cm) menjadi penuh 4 inci (10 cm).
  • Kehadiran bayi, biasanya kepala terlebih dahulu, mulai turun menuju panggul wanita.
  • Wanita tersebut mulai merasa mendorong bayi untuk turun.
  • Tahap ini kira-kira sekitar 3 jam pada l kehamilan pertama dan 2 jam pada kehamilan berikutnya.

TAHAP KEDUA

Dari pembukaan penuh pada servik sampai melahirkan bayi. Tahap ini kira-kira sekitar 45 sampai 60 menit pada kehamilan pertama dan 15 sampai 30 menit pada kehamilan berikutnya.




TAHAP KETIGA

Dari melahirkn bayi sampai mengeluarkan plasenta. Tahap ini biasanya berlangsung hanya beberapa menit tetapi bisa sampai 30 menit.



Persalinan terjadi dalam 3 tahap utama. Tahap pertama (dimana memiliki 2 fase : inisial dan aktif) adalah persalinan umumnya. Dalam hal ini, kontraksi menyebabkan servik membuka secara terus-menerus (membesar) dan menipis dan terbuka (efface) sampai menyatu dengan rahim. Perubahan ini memudahkan janin untuk melalui vagina. Tahap kedua dan ketiga membuat kelahiran pada bayi dan plasenta.

Persalinan biasanya terjadi dalam 2 minggu (sebelum atau sesudah) tanggal yang diperkirakan melahirkan. Secara persis apa penyebab persalinan mulai belum diketahui. Menuju akhir kehamilan (sesudah 36 minggu), seorang dokter mungkin melakukan pemeriksaan panggul untuk mencoba meramalkan kapan waktu persalinan akan mulai. Rata-rata, persalinan berlangsung 15 sampai 16 jam pada kehamilan pertama seorang wanita dan cenderung menjadi lebih pendek, rata-rata 6 sampai 8 jam, pada kehamilan berikutnya. Seorang wanita yang sudah mempunyai persalinan kilat pada kehamilan sebelumnya sebaiknya memberitahu dokternya begitu dia berpikir dia merasa mau malahirkan.

Setiap wanita hamil harus mengetahui apa tanda utama awal persalinan yaitu : kontraksi pada bagian bawah perut dengan jarak waktu teratur dan rasa sakit pada punggung. Meskipun begitu, petunjuk lain bisa mendahului atau menyertai tanda-tanda ini. Keluarnya sedikit darah yang bercampur dengan lendir yang berasal dari vagina (bercak darah) biasanya petunjuk bahwa persalinan akan dimulai. keluarnya pendarahan bisa tampak dini pada waktu 72 jam sebelum kontraksi dimulai.

Kadangkala, selaput yang berisi cairan yang mengandung janin (kantung amniotic) pecah sebelum persalinan dimulai, dan cairan amniotic keluar melalui vagina. Peristiwa ini umumnya dijelaskan sebagai “the water break”. Ketika selaput seorang wanita pecah, dia harus menghubungi dokter atau bidan sesegera mungkin. Sekitar 80 sampai 90 % wanita yang selaputnya pecah sebelum mendekati tanggal yang ditentukan persalinan spontan terjadi dalam waktu 24 jam. Jika persalinan tidak dimulai setelah 24 jam, wanita biasanya dibawa ke rumah sakit, ketika persalinan dibuta mulai (di induksi) untuk mengurangi resiko terhadap infeksi. Setelah selaput pecah, bakteri dari vagina bisa masuk ke rahim lebih mudah dan menyebabkan infeksi pada wanita tersebut, janin, atau keduanya. Oxytocin (yang menyebabkan rahim kontraksi) atau obat-obatan sejenisnya, seperti prostaglandin, digunakan untuk menginduksi persalinan. Jika selaput pecah secara prematur, dokter tidak menginduksi persalinan sampai janin lebih matang.

Ketika kontraksi di bagian bawah perut dimulai, mereka bisa menjadi lemah, tidak teratur dan terpisah jauh. Mereka bisa merasa seperti kram menstruasi. Seiring berjalannya waktu kontraksi perut menjadi lebih longgar, lebih kuat, dan berdekatan bersamaan. Ketika kontraksi hebat terjadi selama 5 menit atau kurang dan servik melebar lebih dari 1 ½ inci (4 cm), wanita tersebut di bawa ke rumah sakit atau pusat melahirkan. Kekuatan, durasi, dan frekwensi kontraksi dicatat. Berat badan mereka, tekanan darah, jantung dan tingkat pernafasan, dan suhu diukur, dan contoh air kencing dan darah diambil untuk dianalisa. Perut mereka di teliti untuk memastikan seberapa besar janinnya, apakah janin menghadap ke belakang atau ke depan (posisi), dan apakah kepala, wajah, pantat, atau bahu menuju jalan lahir (cara keluar).

Cara keluar dan letak janin mempengaruhi bagaimana janin melalui vagina. Kombinasi yang paling umum dan aman adalah menghadap kebelakang (ke arah belakang wanita), dengan wajah dan lekuk tubuh menghadap ke sebelah kanan atau kiri, dan kepala terlebih dahulu, dengan leher menekuk ke depan, dagu masuk ke dalam, dan lengan dilipat melintangi dada. Kepala duluan disebut vertex atau kehadiran cephalic. Selama minggu terakhir atau dua minggu sebelum melahirkan, kebanyakan janin turun sehingga bagian belakang kepala keluar terlebih dahulu. jika cara keluar adalah pantat terlebih dahulu (breech) atau bahu terlebih dahulu atau janin menghadap kedepan, proses melahirkan sangat menyulitkan untuk wanita tersebut, janin dan dokter. Melahirkan sessar dianjurkan.

Biasanya, vagina diperiksa untuk memastikan jika selaput telah pecah dan bagaimana pelebaran dan penghapusan servik, tetapi pemeriksaan ini kemungkinan ditiadakan jika wanita tersebut mengalami pendarahan atau jika selaput telah pecah secara spontan. Warna cairan amniotic dicatat. Cairan harus bening dan tidak memiliki bau yang menyengat. Jika selaput pecah dan cairan amniotic berwarna hijau, pewarnaan tersebut diakibatkan dari kotoran pertama janin (meconium).

Segera setelah wanita tersebut dirawat dirumah sakit, dokter atau praktisi kesehatan lainnya mendengarkan detak jantung janin secara langsung menggunakan stetoskop janin (fetoscope) atau menggunakan alat ultrasonic untuk memantau detak jantung (sebuah prosedur yang disebut pemantau jantung janin elektronik).

Selama tahap pertama persalinan, perkembangan wanita dan janin dipantau secara bertahap atau secara terus-menerus. Memantau detak jantung janin, dengan stetoskop janin atau pemantau jantung janin elektrik, adalah cara yang paling mudah untuk memastikan apakah janin menerima cukup oksigen. Detak jantung yang tidak normal (terlalu cepat atau terlalu lambat) bisa mengindikasi bahwa janin dalam keadaan gagal (selama tahap kedua persalinan, detak jantung wanita dan tekanan darah dipantau secara teratur). Detak jantung janin dipantau setelah setiap kontraksi, jika pemantau elektrik digunakan, secara terus-menerus.

Selama persalinan di rumah sakit, selang infus biasanya dimasukkan kedalam lengan wanita. Selang ini digunakan untuk memberi wanita tersebut cairan untuk mencegah dehidrasi dan, jika diperlukan, untuk memberikan obat-obatan segera mungkin. Ketika cairan diberikan secara infus, wanita tersebut tidak boleh makan atau minum selama persalinan, meskipun dia bisa memilih untuk minum beberapa cairan dan makan beberapa makanan ringan sebelum persalinan. Perut yang kosong selama melahirkan membuat wanita tersebut dapat mengurangi muntah dan tersedak muntahan. Tersedak muntahan, meskipun sangat jarang, bisa menyebabkan gangguan pernafasan, berpotensi gangguan yang mengancam nyawa di mana paru-paru meradang. Biasanya, seorang wanita diberikan antasida melalui mulut untuk menetralkan asam perut ketika dia berada di rumah sakit dan setiap 3 jam sekali. Antasida mengurangi resiko kerusakan pada paru-paru jika muntahan terhisap.

Meringankan rasa sakit : dengan saran dokter atau bidan, seorang wanita biasanya merencanakan pendekatan untuk meringankan rasa sakit sebelum persalinan dimulai. Dia bisa memilih melahirkan anak dengan cara normal, yang didasarkan pada relaksasi dan cara pernafasan untuk menghadapi rasa sakit, atau dia bisa merencanakan untuk menggunakan analgesik atau anestesi jenis tertentu (local, regional, atau general) bila diperlukan. Setelah persalinan dimulai, rencana ini kemungkinan dimodifikasi, bergantung pada bagaimana kemajuan persalinan, bagaimana perasaan si wanita, dan apa yang dianjurkan oleh dokter atau bidan.

Keinginan seorang wanita untuk menghilangkan rasa sakit selama persalinan sangat bervariasi, bergantung beberapa luas dan tingkat keinginannya. Menghadiri kelas persiapan melahirkan anak membantu mempersiapkan wanita tersebut untuk bersalin dan melahirkan. Beberapa persiapan dan dukungan emosi dari orang yang menghadiri persalinan cenderung mengurangi kegelisahan dan seringkali nyata sekali mengurangi kebutuhannya untuk obat-obatan penghilang rasa sakit.

Jika seorang wanita membutuhkan analgesik selama persalinan, mereka biasanya memberikan kepada mereka. Meskipun begitu, karena beberapa obat-obatan ini bisa memperlambat (depress) pernafasan dan fungsi lainnya pada bayi yang baru lahir, jumlah yang diberikan sedikit mungkin. Sangat umum, meperidine atau morphine diberikan secara infus untuk menghilangkan rasa sakit. Obat-obatan ini bisa memperlambat tahap inisial pada tahap awal persalinan, sehingga mereka biasanya diberikan selama fase aktif pada tahap pertama. Sebagai tambahan, karena obat-obatan ini memiliki efek besar sekali selama 30 menit pertama setelah diberikan, obat-obatan ini seringkali tidak diberikan ketika melahirkan segera terjadi. Untuk menghilangkan efek sedative pada obat-obatan ini pada bayi yang baru lahir, seorang dokter bisa memberikan bayi yang baru lahir tersebut obat naloxone sesegera mungkin setelah melahirkan.

Anestesi lokal membuat mati rasa vagina dan jaringan yang terbuka disekitarnya. Biasanya, daerah ini mati rasa dengan anestesi lokal yang disuntikkan melalui dinding vagina dan syaraf pudendal yang mengelilinginya (yang mensuplai rasa pada daerah bagian bawah vagina). Prosedur ini, disebut penyumbatan pudendal, digunakan hanya fase terakhir pada persalinan, ketika kepala bayi kira-kira akan keluar dari vagina. Yang umum lainnya tetapi prosedur yang sedikit efektif meliputi penyuntikan anestesi lokal pada pembukaan vagina. Dengan kedua prosedur, wanita tersebut bisa tetap sadar dan menekan, dan fungsi janin tidak terpengaruh. Prosedur ini sangat berguna untuk melahirkan yang tidak memiliki komplikasi.

Anestesi regional membuat mati rasa banyak daerah. Hal itu kemungkinan digunakan untuk wanita yang ingin secara penuh menghilangkan rasa sakit. Suntikan lumbar epidural hampir selalu digunakan. Prosedur ini meliputi suntikan anestesi pada bagian bawah belakang-ke dalam ruang antara tulang belakang dan lapisan luar jaringan yang melindungi urat syaraf tulang belakang (ruang epidural), sebagai alternatif, sebuah kateter diletakkan pada ruang epidural, dan opoids, seperti fentanil dan sufentanil, secara terus-menerus dan perlahan diberikan melalui kateter. Prosedur lain (anestesi tulang belakang) meliputi menyuntikkan anestesi ke dalam ruang antara tengah dan dalam lapisan pada jaringan yang melindungi urat syaraf tulang belakang (ruang subarachnoid). Suntikan injeksi biasanya digunakan untuk operasi sessar ketika tidak terdapat komplikasi. Baik epidural maupun suntikan tulang belakang mencegah wanita tersebut cukup mendorong. Kadangkala, menggunakan prosedur manapun menyebabkan turunnya tekanan darah. konsekwensinya, jika salah satu dari prosedur ini digunakan, tekanan darah wanita tersebut diukur sesering mungkin.

Anestesi umum membuat seorang wanita untuk sementara waktu tidak sadar. Cara ini jarang diperlukan dan tidak sering digunakan karena bisa memperlambat fungsi pada jantung janin, paru-paru, dan otak. Meskipun efek ini biasanya sementara, hal ini bisa berhubungan dengan penyesuaian bayi yang baru lahir untuk hidup diluar rahim. Anestesi umum biasanya digunakan untuk operasi sessar darurat karena hal ini jalan tercepat untuk membius wanita tersebut.


Memonitor Janin

Pemantau elektrik digunakan secara teratur untuk memantau detak jantung janin dan kontraksi pada rahim. Perubahan tertentu pada detak jantung janin selama kontraksi bisa mengindikasikan bahwa janin tidak mendapatkan cukup oksigen. Detak jantung janin bisa jadi dipantau dari luar dengan menempelkan alat ultranonic (yang mengirim dan menerima gelombang ultrasonic) ke perut wanita tersebut atau secara internal dengan memasukkan elektroda melalui vagina wanita dan memasangnya pada kepala janin. Pendekatan internal biasanya digunakan hanya ketika masalah selama persalinan mungkin terlihat atau ketika sinyal terdeteksi oleh alat eksternal tidak bisa direkam.

Pada kehamilan beresiko tinggi, pemantau elektrik kadangkala digunakan sebagai bagian dari pemeriksaan nonstress, dimana detak jantung janin dipantau sebagaimana janin masih berbaring atau bergerak. Jika detak jantung tidak meningkat dengan bergerak, tes kontraksi stress bisa dilakukan. Untuk memulai kontraksi kandungan, oxytocin (sebuah hormon yang menyebabkan rahim berkontraksi selama persalinan) biasanya diberikan secara infus. Detak jantung janin dipantau selama kontraksi ini untuk memastikan apakah janin akan bisa menahan persalinan.

Ketika masalah terdeteksi, contoh darah kepala janin kemungkinan diambil. Selama persalinan, darah dalam jumlah kecil diambil dari kepala janin untuk mengukur acidicity pada darah (pH). Pengukuran ini membantu dokter untuk memastikan apakah janin menerima cukup oksigen.

Berdasarkan beberapa tes, seorang dokter bisa mengijinkan persalinan untuk dilanjutkan atau bisa melakukan operasi sessar sesegera mungkin.


Melahirkan anak secara alami

Melahirkan anak secara alami menggunakan teknik relaksasi dan pernafasan untuk mengendalikan rasa sakit selama melahirkan anak. Melahirkan anak secara alami seringkali membantu mengurangi atau menghilangkan keperluan akan analgesik atau anestesi selama persalinan atau melahirkan.

Untuk persiapan melahirkan secara alami, seorang wanita hamil dan pasangannya mengikuti kelas persiapan melahirkan anak, biasanya 6 sampai 8 sesi selama beberapa minggu, untuk mempelajari bagaimana menggunakan teknik relaksasi dan pernafasan. Mereka juga mempelajari berbagai tahapan pada persalinan dan melahirkan.

Teknik relaksasi tersebut meliputi bagian tubuh yang tegang dan kemudian dirilekskan. Teknik ini membantu seorang wanita untuk rileks mengistirahatkan tubuhnya ketika rahim berkontraksi selama persalinan dan merilekskan seluruh badan di antara kontraksi.

Teknik pernafasan meliputi beberapa jenis pernafasan, yang digunakan pada waktu yang berlainan selama persalinan. Selama tahap pertama persalinan, sebelum wanita tersebut nulai menekan, jenis-jenis pernafasan berikut bisa membantu :

  • Bernafas dalam-dalam untuk membantu wanita tersebut rileks pada permulaan dan akhir kontraksi.
  • Cepat, pernafasan dangkal (terengah-engah) pada bagian atas dada pada puncak kontraksi.
  • Pola nafas pendek dan dangkal membantu wanita tersebut mengulang dari mendorong ketika dia memiliki keinginan untuk mendorong sebelum servik terbuka penuh.
Pada tahap kedua persalinan, wanita tersebut secara bergantian antara mendorong dan bernafas terengah-engah.

Wanita dan pasangannya harus berlatih relaksasi dan teknik pernafasan secara teratur selama kehamilan. Selama persalinan, pasangan si wanita bisa membantu mengingatkan dia apa yang harus dilakukan pada tahap tertentu dan mencatat ketika dia tegang, sebagai tambahan untuk memberikan dukungan emosi. Pasangannya bisa memijat wania tersebut untuk membantunya lebih rileks.

Metode yang sangat baik pada melahirkan anak secara alami mungkin metode Lamaze. Metode lain, metode leboyer, termasuk melahirkan di dalam ruang gelap dan merendam bayi ke dalam air suam-suam kuku sesegera mungkin setelah melahirkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar