Jumat, 12 Maret 2010

Gangguan Stres Paska Trauma pada Anak

Oleh: dr. Yunias Setiawati, SpKJ Psikiater

Kejadian Bencana
Dunia tidak pernah terlepas dari bencana. Hampir setiap hari berita di media dipadati dengan berita bencana baik itu banjir, gunung meletus, kecelakaan pesawat, tanah longsor dan sebagainya yang mengakibatkan penderitaan bagi korban maupun saksi bencana. Seperti pada tanggal 30 September 2009 kemarin, ketika kita dikejutkan dengan berita gempa bumi di Padang yang menelan ratusan korban jiwa.

Bencana dapat terjadi di mana dan kapan saja. Bencana tersebut bisa terjadi karena peristiwa alam misalnya banjir bandang, tanah longsor, bencana tsunami, gunung meletus ataupun bencana akibat ulah manusia misalnya kecelakaan pesawat, bom bunuh diri, kebakaran, penyakit fisik yang berkepanjangan dan kekerasan dalam rumah tangga. Seperti dalam setiap kejadian lain, pasti akan selalu ada anggota masyarakat yang menjadi korban, dan biasanya korban yang paling menderita adalah anak-anak.


Akibat Bencana
Anak yang mengalami peristiwa bencana dapat mengakibatkan timbulnya gangguan emosional dan psikis yang berkelanjutan yang dikenal sebagai gangguan stress pasca trauma atau disebut juga dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Seorang anak akan ber-resiko menderita gangguan stres paska trauma terkait dengan tingkat trauma yang dialami, maupun hubungannya kepada korban bencana, misalnya kehilangan ayah, ibu, paman, bibi, ataupun kerabat dekat anak lainnya. Sehingga biasanya akan terjadi perubahan perilaku dan emosi pada anak, karena anak belum dapat mengutarakan perasaan mereka.

Setelah trauma, anak-anak pada awalnya menunjukkan perilaku seperti gelisah atau bingung, rewel dan cengeng Mereka juga dapat menunjukkan rasa takut yang berlebihan, ketidak-berdayaan, kemarahan, kesedihan, atau penolakan serta sering sulit tidur karena terganggu mimpi buruk. Anak-anak yang mengalami trauma berulang kali juga dapat mengembangkan respon emosional seperti mati rasa untuk menghilangkan rasa sakit dan trauma, yang dikenal dengan istilah disosiasi.

Anak-anak dengan gangguan stres paska trauma biasanya juga akan menghindari situasi atau tempat-tempat yang dapat mengingatkan mereka kembali terhadap trauma yang pernah dialami. Mereka mungkin juga menjadi kurang responsif secara emosional serta depresi, dan menarik diri.


Gejala Gangguan Stres Paska Trauma Pada Anak
Seorang anak dengan gangguan stres paska trauma biasanya sering seolah-olah mengalami kembali peristiwa traumatik tersebut, misalnya seorang anak yang mengalami bencana banjir, mereka kemudian takut pada air atau bahkan takut melihat hujan, karena mereka membayangkan seolah-olah akan terjadi banjir lagi.

Anak-anak dengan gangguan stres paska trauma dapat juga menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:
  • Khawatir tentang kematian pada usia dini
  • Kehilangan minat dalam kegiatan
  • Mengalami gejala fisik seperti sakit kepala dan sakit perut
  • Menunjukkan reaksi emosional yang berlebihan
  • Gangguan tidur, sering terbangun karena mimpi buruk
  • Sulit berkonsentrasi
  • Mudah marah
  • Cengeng
  • Menunjukkan peningkatan kewaspadaan terhadap lingkungan
Gejala-gejala gangguan stres paska trauma tersebut dapat berlangsung selama beberapa bulan bahkan sampai bertahun-tahun. Sehingga intervensi sejak dini untuk mengatasinya sangat penting, terutama bagi perkembangan emosional anak. Intervensi tersebut dapat berupa dukungan dari orangtua, guru, teman sekolah dan lingkungan sekitarnya yang dapat menimbulkan perasaan aman dan terlindungi bagi anak.


Penanganan Gangguan Stres Paska Trauma Pada Anak
Untuk penanganan gangguan stres paska trauma pada anak dapat dilakukan psikoterapi baik secara individu, kelompok, atau keluarga yang memungkinkan anak untuk berbicara, menggambar, bermain, atau menulis tentang peristiwa yang mereka alami. Terapi perilaku dan terapi kognitif juga dapat membantu mengurangi rasa takut dan kekhawatiran anak akan hal-hal tertentu. Selain itu obat juga dapat digunakan untuk menangani gejala agitasi, kegelisahan, ataupun depresi.

Dengan kepekaan dan dukungan dari keluarga dan profesional, anak-anak dengan gangguan stres paska trauma dapat belajar untuk mengatasi kenangan terhadap trauma, sehingga kelak dapat membantu mereka untuk hidup sehat dan meningkatkan produktivias mereka.


Tentang Penulis
dr. Yunias Setiawati, SpKJ Psikiater merupakan dokter spesialis kejiwaan lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, dan saat ini berpraktek di RS.Siloam Surabaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar