Kamis, 30 Juli 2009

Genjatan Rokok: Kekuatan Nikotin

Kebanyakan para perokok menggunakan rokok/produk tembakau secara terus menerus dikarenakan mereka teradiksi atau kecanduan (addiction) dengan nicotine (nikotin). Ciri khas adiksi atau kecanduan adalah adanya dorongan yang sangat kuat untuk menggunakan dan mencari obat/produk terserbut, bahkan konsekuensi yang harus mereka dihadapi berdampak negatif pada kesehatan. Di amerika serikat hal seperti itu terdokumentasi dengan baik bahwa para perokok yang mengenal penggunaan rokok atau produk tembakau lainnya sebagai bahaya atau berbahaya bagi kesehatan dan menyatakan suatu dorongan untuk mengurangi atau berhenti dari merokok, dan tiap tahunnya kurang lebih 365 juta dari mereka ingin berhenti. Sayangnya, hanya sekitar 6 % dari mereka yang berusaha berhenti berhasil dalam waktu lebih dari satu bulan.

Penelitian telah menunjukkan bagaimana efek nikotin pada otak yang mana nikotin menghasilkan sejumlah pengaruh pada otak. Pokok pentingnya adalah pada alam kecandaunnya dimana ditemukan bahwa nikotin akan mengaktifkan semacam jalan-jalan kecil hadiah yang disebut “reward pathways/ circuits”-sirkuit-sirkuit otak yang mengatur otak merasa keenakan, nikmat atau senang.

Bahan kimia otak utama yang terlibat dalam menengahi dorongan untuk menggunakan drugs adalah neurotransmitter dopamine, dan penelitian telah menunjukkan bahwa nikotin akan berpengaruh pada peningkatan kadar dopamine dalam reward circuits. Reaksi ini sama halnya seperti yang terlihat pada penyalahgunaan obat-obat terlarang (narkoba), dan mendasari adanya sensasi kenikmatan yang di alami oleh banyak para peokok.

Farmakokinetik dari nikotin juga turut serta berpotensi meningkatkan kesalahan pemakaian/penggunaan (abuse). Merokok cigarette (salah satu produk tembakau/tobacco) menghasilkan penyebaran nikotin dengan cepat ke dalam otak, dengan kadar racun yang dapat mencapai tingkat tertinggi dalam 10 detik setelah penghisapan. Akan tetapi, pengaruh akut nikotin menghilang dalam beberapa menit, seraya perasaan-perasaan mendapat ganjaran karena merasa nikmat (reward circuits), yang menyebabkan para perokok terus-menerus merokok guna mempertahankan pengaruh kenikmatan (drug's pleasurable effects) dan mencegah penghentian atau penarikan nikotin dari dalam tubuh (Nicotine withdrawal).

Farmakokinetik adalah ilmu yang mempelajari kinetic zat aktif dalam tubuh (invivo) dimulai dari absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi.

Gejala-gejala pada nicotine withdrawal antara lain mudah marah, pendambaan/dorongan merokok yang kuat, menurunnnya kesadaran dan perhatian, gangguan tidur dan peningkatan selera makan. Gejala-gejala tersebut mungkin mulai terlihat dalam beberapa jam setelah rokok terakhir, dengan cepat mendorong orang-orang yang teradiksi kembali menggunakan produk tembakau. Gejala-gejala tersebut mencapai puncaknya dalam beberapa hari pertama penghentian merokok dan mungkin berkurang dalam beberapa minggu. Pada beberapa orang, gejala-gejala Nicotine withdrawal bisa bertahan berbulan-bulan.

Sementara Nicotine withdrawal berkaitan dengan efek pharmacological nikotin (efek pharmacological adalah pengaruh terapi dengan mengunakan obat-obatan), banyak faktor-faktor perilaku bisa juga mempengaruhi beratnya gejala-gejala pada Nicotine withdrawal. Pada beberapa orang, perasaan, penciuman, dan penglihatan pada sebuah rokok serta ritual/kebiasaan membeli, memegang, menyalakannya dan menghisap rokok tersebut adalah semua hal yang berhubungan dengan pengaruh kenikmatan (pleasurable effects) dari meorkok dan hal-hal tersebut dapat membuat penarikan nikotin atau gejala pendambaan/dorongan merokok menjadi lebih hebat atau berat.

Nicotine gum (sejenis permen karet yang mengantarkan nikotin ke dalam badan, digunakan sebagai pertolongan pada genjatan/penghentian merokok dan berhenti menggunakan produk tembakau tanpa asap) dan nikotine patches (tambal) bisa meringankan aspek-aspek pharmacological dari withdrawal, namuan pendambaan/rorongan kuat merokok tetap ada/bertahan. Bentuk pengganti nikotin lainnya, seperti inhaler (bentuk hisap), mencoba mengatasi beberapa isu lain, selagi terapi perilaku (behavioral therapies) dapat membantu para perokok memahami dan mengenal lingkungan pemicu withdrawal dan dorongan merokok sehingga mereka dapat memakai strategi-strategi pencegahan untuk mengalahkan dan mematahkan dorongan-dorongan merokok dan gejala-gejala tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar