Jumat, 24 Juli 2009

Sifilis dan Pengembangan Penyakit HIV

PENJABARAN
Dalam jurnal Acquired Immune Deficiency Syndromes edisi 1 Maret 2007, para peneliti Spanyol melaporkan hasil penelitian yang menilai dampak sifilis terhadap viral load HIV dan jumlah CD4. Disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, sifilis menimbulkan berbagai gejala. Sifilis primer atau sifilis awal dicirikan dengan luka kelamin yang tidak menyakitkan dikenal sebagai chancre; biasanya sembuh tanpa diobati, tetapi bakteri sifilis tetap ada dalam tubuh.

Sifilis sekunder dicirikan dengan ruam kulit termasuk pada telapak tangan dan kaki. Pasien mungkin mengalami gejala serupa flu. Sifilis tertier atau stadium lanjut dapat merusak organ tubuh, termasuk otak, jantung, dan mata. Atau bahkan dapat mengakibatkan kebutaan dan demensia. Pengobatan yang baku untuk sifilis awal adalah suntikan penisilin benzatin satu kali.

Penelitian retrospektif ini melibatkan 118 peserta HIV-positif (96% laki-laki, rata-rata berusia 38 tahun) di 12 rumah sakit di Spanyol, yang didiagnosis dengan sifilis awal antara Januari 2004 dan Desember 2005. Separuhnya memakai terapi Antiretroviral (ART) saat sifilis didiagnosis. Mereka yang memulai ART atau mengganti rejimen ART-nya selama masa penelitian dikeluarkan dari analisis ini. Tujuh puluh enam mempunyai viral load dan jumlah CD4 yang tersedia sebelum dan selama infeksi sifilis, 94 mempunyai viral load dan jumlah CD4 yang tersedia selama dan setelah pengobatan.

HASIL
  • HIV dan sifilis didiagnosis pada waktu yang sama pada 38 pasien (32%).
  • Jumlah CD4 selama infeksi sifilis lebih rendah dibandingkan tiga sampai sembilan bulan sebelum infeksi (496 banding 590).
  • Jumlah CD4 meningkat kembali setelah pengobatan sifilis (dari 509 menjadi 597; P = 0,0001).
  • Viral load HIV meningkat pada 27,6% pasien selama infeksi sifilis:
    - 33% pasien yang sebelumnya dengan viral load terdeteksi mengalami peningkatan viral load;
    - 25% pasien yang sebelumnya dengan HIV tidak terdeteksi menunjukkan viral load terdeteksi.
  • Viral load tidak menurun setelah pengobatan sifilis.
  • Satu-satunya faktor yang dikaitkan dengan peningkatan viral load adalah tidak memakai ART.
  • Satu-satunya faktor yang dikaitkan dengan jumlah CD4 yang menurun lebih dari 100 selama infeksi sifilis adalah jumlah CD4 sebelumnya.

KESIMPULAN
“Infeksi sifilis dikaitkan dengan penurunan jumlah CD4 dan peningkatan viral load HIV pada hampir sepertiga pasien,” para penulis menulis. Para penulis juga mencatat bahwa, “Pada rangkaian ini, lebih dari dua pertiga kasus sifilis didiagnosis pada pasien yang sebelumnya diketahui terinfeksi HIV” – menunjukkan bahwa orang HIV-positif terus berperilaku seksual yang beresiko.

Dua penelitian ini, termasuk juga penelitian terbaru tentang hubungan antara virus herpes simpleks dan penularan HIV, menunjukkan bahwa screening dan pengobatan IMS adalah bagian penting dalam pencegahan dan penatalaksanaa HIV.

Menyoroti pentingnya topik ini, belum lama ini diterbitkan dua artikel yang membahas berbagai masalah terkait dengan HIV dan IMS – termasuk kejadian luar biasa baru-baru ini, venereum limfogranuloma dan gonorea yang resistan terhadap obat – satu oleh Jeanne Marrazzo, MD, dalam jurnal Topics in HIV Medicine edisi Februari-Maret 2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar