Sabtu, 03 April 2010

Prolapsus Rektum

DEFINISI
Prolapsus Rektum adalah turunnya rektum melalui anus. Prolapsus yang bersifat sementara dan hanya mengenai lapisan rektum (mukosa), sering terjadi pada bayi normal, mungkin karena bayi mengedan selama buang air besarnya dan jarang berakibat serius. Pada orang dewasa, prolapsus lapisan rektum cenderung menetap dan bisa memburuk, sehingga lebih banyak bagian dari rektum yang turun. Prosidensia adalah prolapsus rektum yang lengkap. Paling sering terjadi pada wanita di atas usia 60 tahun.


PENYEBAB
Prolapsus rektum seringkali berhubungan dengan berbagai keadaan berikut:
- Enterobiasis
- Trikuriasis
- Fibrosis kistik
- Malnutrisi dan malabsorbsi (misalnya penyakit seliak)
- Sembelit.


GEJALA
Prolapsus rektum menyebabkan rektum berpindah keluar, sehingga lapisan rektum terlihat seperti jari berwarna merah gelap dan lembab yang keluar dari anus.


DIAGNOSA
Untuk menentukan luasnya prolapsus, dilakukan pemeriksaan pada saat penderita berdiri atau jongkok dan mengedan. Melalui perabaan otot melingkar anus (otot sfingter ani) dengan menggunakan sarung tangan, sering ditemukan adanya penurunan dari tonus (ketegangan) otot. Melalui pemeriksaan sigmoidoskop dan barium enema usus besar, bisa ditemukan penyakit yang mendasarinya (misalnya adanya kelainan pada saraf dari otot sfingter ani).


PENGOBATAN
Pada bayi dan anak-anak, pelunak tinja akan mengurangi kebutuhan mengedan selama buang air besar. Melilit bokong dengan tali pengikat diantara waktu buang air besar, biasanya membantu prolapsus sembuh dengan sendirinya. Pada orang dewasa, diperlukan pembedahan untuk mengatasi masalah ini. Pembedahan sering menyembuhkan prosidensia. Pada pembedahan perut, rektum diangkat, ditarik dan ditempelkan pada tulang ekor. Pada jenis pembedahan yang lainnya, sebagian dari rektum dibuang.

Untuk orang yang terlalu lemah untuk menjalani operasi karena usia lanjut atau kesehatan yang buruk, lingkaran dari kawat atau plastik dapat dimasukan mengelilingi otot sfingter ani, cara ini disebut prosedur Thiersch.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar