Tampilkan postingan dengan label Metode. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Desember 2008

Menentukan Jenis Kelamin Anak

Menentukan Jenis Kelamin Anak
Menentukan jenis kelamin anak? Mungkin bisa, mungkin juga tidak. Para ahli juga bersikap skeptik (ragu-ragu), namun hal tersebut tak menghentikan para orang tua untuk menentukan jenis kelamin anak mereka. Informasi tentang mekanisme konsepsi ini memacu para peneliti untuk meneliti teori seks ini. Namun tak satupun yang didukung oleh para ahli medis bahkan memicu perdebatan dikalangan medis.

Apa pendapat para Pakar?

Teori pemilihan jenis kelamin anak membuat beberapa pasangan cenderung melakukan hubungan seks berdasarkan kromosom anak laki-laki yang membawa sperma bergerak lebih cepat namun tidak dapat bertahan lama seperti kromosom anak perempuan meskipun belum ada sebuah penelitian yang mendukung pernyataan ini.

Sebuah studi tahun 1995 yang diterbitkan New England Journal of Medicine menuturkan tentang hubungan seks dan ovulasi. “Kita tidak menemukan hubungan antara waktu berhubungan seks dengan jenis kelamin bayi,” ujar Dr. Clarice Weinberg dari National Institute of Environmental Health Sciences. Para peneliti menyimpulkan bahwa usia subur terjadi sekitar tujuh hari diawal atau setelah ovulasi.

Apakah ada perubahan terkini?

Sebuah studi yang diterbitkan September 1998 tantang masalah Reproduksi manusia menyatakan yang pernah digunakan pada media hewan mungkin bermanfaat pada para orang tua yang menginginkan bayi perempuan.

Para peneliti dari Genetics & IVF Institute di Fairfax, VA, menyatakan bahwa mereka dapat membantu para orang tua untuk menentukan jenis buah hati mereka melalui flow cytometry, sebuah prosedur dimana DNA ditambahi dengan fluorescent yang mati dan telah dipisahkan.

Teknologi yang menekankan pada kenyataan bahwa sperma kromosom Y (yang memproduksi jenis kelamin laki-laki) mempunyai kekurangan sekitar 2,8% dalam materi genetik dibanding kromosom X (yang memproduksi jenis kelamin wanita). Para peneliti yang menggunakan DNA sebagai detektor untuk menentukan sperma yang akan diinseminasikan secara buatan pada wanita.

Sejauh ini mereka beruntung dapat memproduksi jenis kelamin wanita – sekitar 85% dari sel-sel ini merupakan contoh pada kromosom X dan sekitar 65% sel adalah kromosom Y untuk jenis kelamin laki-laki. Dari 14 kasus kehamilan yang menginginkan bayi perempuan, 13 dari kasus kehamilan tersebut memiliki bayi perempuan, bahkan beberapa pakar menyatakan metode tersebut memang menjanjikan. “Tak ada yang berhasil sampai sekarang,” ujar Dr. Alan DeCherney, kepala Obstetrics and Gynecology di University of California, Los Angeles serta editor Journal Fertility and Sterility, pada New York Times.

“Hal itu sangat tidak aman," ujar Dr. Veronica Ravnikar, direktur Reproductive Endocrinology & Infertility, University Massachusetts Medical Center di Worcester, MA.

Pada intinya dia mengatakan bahwa metode seleksi jenis kelamin dapat menimbulkan masalah karena berharap pada sesuatu yang salah.

Apakah ada metode seleksi jenis kelamin lainnya?

Ingatlah tak ada satupun metode pemilihan jenis kelamin bayi yang popular terjamin hasilnya bahkan beberapa teknik tersebut berlawanan satu dengan yang lainnya.

“Anda bisa menemukan sebuah studi untuk mendukung teori-teori tersebut, “ujar Dr. Weinberg dari National Institute of Environmental Health Sciences.

Untuk mengikuti metode- metode ini Anda harus lebih sensitif saat mengalami ovulasi, atau anda dapat membeli alat perkiraan namun banyak orang yang hanya menggunakan temperatur dasar atau basal body temperature (BBT) selain memonitor cervical muscus mereka.

Pakar reproduksi yakin bahwa hari sebelum wanita mendapat ovulasi, temperatur dasar tubuhnya atau BBT akan jatuh dan kemudian naik dua hari setelah ovulasi. Selama ovulasi cervical muscus wanita menyerupai jalinan putih telur – licin, jernih dan basah.

Cobalah untuk mengkombinasikan dua hal tersebut dan Anda akan mendapatkan cara yang akurat untuk mengetahui ovulasi Anda, saat Anda mulai mengetahui kapan telur mulai keluar Anda dapat mengatur kapan Anda mulai behubungan seks untuk mendapatkan kehamilan.

Jika Anda ingin mengikuti metode berikut Anda harus mencatat setiap perubahan selama beberapa bulan saat sebelum Anda mencoba untuk mengusahakan kehamilan.

Setelah mengalami siklus Anda akan lebih mengetahui tubuh Anda sendiri dan memudahkan menerpakan metode mana yang akan Anda pilih.

Metode Shettles

Dr. Landrum Shettles dan David Rorvik yang menulis How to Choose the Sex of Your Baby menyatakan bahwa metode Shettles memiliki keefektifan sebesar 75%. Karena kromosom Y (laki-laki) bergerak lebih cepat dibanding kromosom X (perempuan), Shettles mengatakan bahwa metode ini tepat jika Anda menginginkan anak lelaki.

Namun jika Anda mencoba mengusahakan kehamilan dua hari atau tiga hari sebelum ovulasi maka Anda akan mendapat anak perempuan.

Menurut Dr. Ravnikar, metode Shettles atau metode yang serupa lainnya, metode ini tepat sekali bagi pasangan yang ingin mendapatkan bayi laki-laki yang mendekati masa ovulasi sejak kromosom Y yang dibawa sperma lebih lemah dan daripada yang dibawa kromosom X, meskipun terkadang metode tersebut belum tentu menjanjikan apakah kita akan mendapat bayi perempuan atau laki-laki.

Metode Whelan

Dalam bukunya 'Boy or Girl?', Elizabeth Whelan, Sc.D., menyangkal metode Shettles dan menyarankan kebalikan metode tersebut. Karena perubahan biokimia yang cenderung lebih menyukai produksi sperma lebih awal pada siklus wanita. Whelan menyatakan jika Anda ingin bayi laki-laki cobalah berhubungan seks sebelum BBT Anda naik, namun jika Anda ingin bayi perempuan agar menahan diri untuk tidak berhubungan seks sampai dua atau tiga hari sebelum ovulasi.

Whelan menaksirkan bahwa untuk mendapat bayi lelaki kemungkinan keberhasilan sekitar 68% sementara untuk bayi perempuan sekitar 56%.

Metode Ericsson dan Centrifugation

Metode hasil temuan Dr. Ronald Ericsson ini terbukti yang paling banyak digunakan di klinik-klinik kesuburan dan banyak mendapat kesuksesan. Metode Ericsson berusaha memisahkan kromosom pria dan perempuan dengan menyaring sperma ke dalam sebuah larutan protein yang mudah larut yang disebut albumin.

Prosedur lainnya yaitu dengan memisahkan sperma melalui proses centrifuge, karena kromosom Y membawa sperma sifatnya lebih ringan akan naik keatas sedangkan kromosom X yang dibawa sperma cenderung lebih berat sehingga akan tenggelam ke bawah.

Dokter yang menangani inseminasi buatan ini akan memisahkan sperma menurut jenis kelamin yang Anda kehendaki.

Jika Anda berharap menginginkan anak laki-laki mungkin peluang Anda lebih besar untuk mewujudkannya, menurut sebuah data dari National Center for Health Statistics menunjukkan bahwa bayi laki-laki mengalami peningkatan sebesar 51,2% sedangkan perempuan hanya sekitar 48,8%.

Sabtu, 18 Oktober 2008

Metode Baru Meluruskan Tulang

Metode Baru Meluruskan Tulang
Keceriaan terpancar di wajah Stephanie Ganie. Gadis 17 tahun ini sekarang berani mengenakan sepatu hak tinggi. Padahal, tujuh tahun silam, putri kedua Nyonya Lestari Purnama itu sulit berjalan normal lantaran kakinya berbentuk O. Bila sekarang bentuk kaki Stephanie normal, itu karena dia menjalani operasi bedah tulang metode fitbone.

Kelainan bentuk kaki Stephanie itu merupakan bawaan sejak lahir. Jarak antara kedua lututnya lebih dari 12 cm. Padahal, normalnya di bawah 6 cm. ''Anak saya yang satu ini terbilang sulit berjalan,'' kata Nyonya Lestari Purnama, yang dihubungi Gatra via telepon, Kamis pekan lalu. Ia baru mengetahui kelainan bentuk kaki Stephanie setelah putrinya itu berumur satu tahun.

Untuk menormalkan bentuk kaki putrinya, Nyonya Lestari Purnama, yang tinggal di Jalan Danau Singkarak, Medan, berkonsultasi pada sejumlah dokter di kotanya. Beberapa dokter mengatakan, putrinya kekurangan asupan vitamin D. Stephanie pun diberi asupan vitamin D dan melakukan kontrol ke dokter tiga bulan sekali. Namun bentuk kaki Stephanie tak juga membaik.

Tak puas dengan dokter di Medan, Nyonya Lestari Purnama pergi ke Singapura untuk berkonsultasi pada sejumlah dokter yang berpraktek di rumah sakit terkenal. Diagnosisnya sama, Stephanie kekurangan vitamin D. ''Saya hampir putus asa,'' ujar Nyonya Lestari.

Setelah Stephanie berumur delapan tahun, Nyonya Lestari berkonsultasi pada ahli bedah tulang (ortopedi), Dokter Sarbijt Singh, yang berpraktek di sebuah rumah sakit di Singapura. Dokter Singh minta Stephanie menjalani pemindaian tulang dengan rontgen. ''Kata Singh, 80% kaki Stephanie bisa dinormalkan dengan operasi,'' kata Nyonya Lestari.

Selanjutnya, tulang kaki Stephanie dioperasi oleh Dokter Singh dengan metode fitbone. Operasi tahap pertama dilakukan ketika Stephanie berusia 11 tahun. Operasi ini dilakukan dengan cara memotong bagian atas tulang paha hingga bagian bawah. Pembedahan itu mengharuskan Stephanie mondok di rumah sakit. ''Selama tiga bulan, Stephanie berjalan dengan bantuan kursi roda dan tongkat,'' tutur Nyonya Lestari.

Kemudian Stephanie menjalani operasi tahap kedua pada tulang betisnya. Tulang betis Stephanie dipotong. Untuk memotong tulang betis itu, kata Nyonya Lestari, Dokter Singh menggunakan metode ilizarov. Pemulihan pasca-operasi berlangsung tujuh bulan. Dalam kurun waktu tersebut, Stephanie juga dibantu dengan kursi roda dan tongkat.

Pembedahan ketiga dijalani Stephanie pada Juni 2008 di rumah sakit lain di Singapura. Kali ini, Dokter Singh melihat semua tulang baru sudah menyatu dan mengeras. ''Pen-pen yang masih menempel dicabut semua,'' ujar Nyonya Lestari. Untuk semua operasi tulang kaki putrinya itu, Nyonya Lestari mengeluarkan dana S$ 50.000.

Dua pekan silam, Dokter Sarbijt Singh mempresentasikan metode bedah tulang fitbone itu kepada wartawan dalam jumpa pers di Hotel Gran Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. ''Fitbone merupakan implan ortopedi pertama dan satu-satunya di dunia yang dikendalikan dengan komputer," kata Dokter Singh. Ia menyatakan, beberapa rumah sakit di sejumlah negara sudah menerapkan teknik itu.

Metode fitbone dilakukan pertama kali di Singapura pada 2001. Metode ini diterapkan dengan terlebih dahulu melakukan foto rontgen pada pasien. Ini untuk melihat bentuk tulang yang akan diterapi dan ukuran rongga yang memungkinkan dimasukkannya alat fitbone. Dari gambaran tadi bisa direka-reka panjang gagang baja yang akan dimasukkan ke tubuh pasien di samping tulang.

Lalu dokter membuat sayatan di lengan atau tulang paha. Sayatan itu digunakan untuk memotong tulang. Kemudian alat berupa gagang dimasukkan. Selanjutnya dokter menancapkan pen untuk menyangga alat itu di bagian atas dan bawah tulang.

Di bagian ujung atas gagang tadi terpasang kabel dan pemancar yang ditaruh di bawah kulit. Lalu ada kabel lagi yang menghubungkannya dengan sensor. Lewat sensor inilah, pasien mengetahui pertumbuhan tulang barunya. Sedangkan gagang itu bekerja mendorong tulang untuk segera menyatu. Bila tulang sudah menyatu, alarm akan berbunyi.

Menurut Singh, metode fitbone sangat berguna untuk kelainan tulang bawaan atau kerusakan tulang akibat kecelakaan. Kelainan bawaan, misalnya, penyakit kaki berbentuk O dan X atau lantaran terinfeksi polio. ''Bisa pula untuk meninggikan kaki. Tapi itu urusan bedah kosmetik,'' ujar Dokter Singh. Tinggi kaki maksimal yang bisa dibantu dengan alat itu adalah 7 cm.

Pada masa pertumbuhan, bayi berjalan dengan kaki berbentuk O atau X. Ini terjadi karena jenis tulang bayi masih rawan dan berlangsung pada usia 0-2 tahun. Lalu, pada umur 2-8 tahun, kaki anak akan berubah menjadi berbentuk X. Setelah itu, kaki akan lurus dan normal. Namun, kalau jarak kedua lutut anak lebih dari 6 cm, orangtua patut cemas. Sebab hal itu bisa menyebabkan kaki berbentuk O yang sulit diperbaiki.

Singh menyatakan, setelah dibedah, tulang pasien akan kembali normal. Meski demikian, tak semua orang bisa menjalani metode fitbone. Hanya remaja berusia 16 tahun ke atas yang kakinya boleh dibedah menggunakan metode ini. Sebab, pada usia tersebut, lempeng pertumbuhan tulang sudah terbentuk. Penderita osteoporosis juga tak bisa dioperasi dengan metode fitbone.

Ahli bedah tulang pada Rumah Sakit Medistra, Jakarta, Dokter Nicolas C. Budhidharma, menyebut fitbone sebagai metode bedah terbaru. Selama ini, operasi yang dilakukan di Indonesia masih menggunakan metode ilizarov. Metode itu digunakan untuk mengoreksi bentuk kaki yang tidak simetris atau dikenal dengan istilah osteogenesis distraksi.

Caranya, dengan melakukan pembukaan tulang dari luar ke dalam. ''Kelemahannya, pasien merasa tidak nyaman,'' kata Dokter Nicolas. Luka sayatan pun menjadi lebih besar. ''Proses penyembuhannya menjadi lebih lama,'' ia menambahkan. Bila tak hati-hati, bisa timbul infeksi.

(Kesehatan, Gatra Nomor 46 Beredar Kamis, 25 September 2008)