Rabu, 09 Desember 2009

Pengobatan Depresi Bisa Membantu Menyehatkan Jantung

Depresi dapat menguras energi dan motivasi bahwa orang dengan penyakit jantung perlu untuk menjadi lebih baik. Studi menunjukkan bahwa pasien-pasien depresi jantung lebih kecil kemungkinannya untuk mengonsusi obat-obatan mereka, untuk berhenti merokok, atau untuk menghadiri rehabilitasi jantung yang semuanya penting bagi pemulihan dan kelangsungan hidup.

Bagaimana suasana hati bisa menghalangi pemulihan jantung (cardiac recovery).
Berdasarkan studi dalam kurun waktu yang lama, tentang penyakit jantung dan depresi pada University of California, San Fransisco, dihasilkan bahwa kemampuan seorang pasien untuk pemulihan jantung mungkin ada banyak hal yang harus dilakukan dengan kondisi pikirannya seperti kesehatan jantungnya.

"Depresi tidak hanya melemahkan, tetapi juga dapat memperburuk kondisi kronis," dikutip dari perkataan Maria Whooley, MD, pemimpin dari penelitian tersebut, profesor kedokteran dan epidemiologi di UCSF dan San Francisco Veterans Affairs Medical Center. Dalam video ini, Laurence Sperling, MD, seorang kardiolog preventif di Emory University di Atlanta, menjelaskan bahwa depresi dikombinasikan dengan penyakit jantung fisik maupun psikologis.

Penyakit-penyaki serius dapat memperburuk/menggelapkan suasana hati seseorang, tetapi penyakit jantung terlihat menjadi sangat menekan, ujar Wayne Sotile, PhD, direktur pelayanan psikologi di the Wake Forest University Healthy Exercise & Lifestyle Programs dan beliau juga seorang penulis buku Thriving With Heart Disease (Free Press, 2003). "Itu adalah salah satu dari sedikit penyakit di mana orang memiliki rasa takut terhadap kematian mendadak," katanya.

Banyak pasien jantung sepakat. Tentang kata-kata "Saya banyak berpikir tentang mati. Saya berusia 61 tahun dan bertanya-tanya apakah aku akan terbangun di pagi hari," kata Barbara Forman dari Englewood, Ohio. Lima tahun setelah operasi bypass dan dia masih tetap khawatir tentang depresinya.

Depresi menyamarkan diri sebagai kelelahan
Tapi para pasien tidak selalu mengenali depresi dan dokter tidak selalu melakukan peeriksaan atau screening pada hal ini. Keduanya mungkin menyalahkan pada gejala-gejala kelelahan dari penyakit jantung, pembedahan, dan efek samping pengobatan jantung.

Itulah sebabnya Leo Pozuelo, MD, assosiasi direksi dari Bakken Heart-Brain Institute di Klinik Cleveland Clinic menunjukkan bahwa jantung pasien bertanya pada diri sendiri dua pertanyaan penting:
  • Selama dua minggu terakhir, apakah Anda merasa hanya sedikit dalam ketertarikan atau kesenangan dalam melakukan sesuatu?
  • Selama dua minggu terakhir, apakah Anda merasa down, depresi, atau putus asa?
Jika jawabannya adalah ya untuk keduanya, Anda harus mencari dan atau meminta bantuan dari seorang professional ahli kesehatan mental, kata Dr Pozuelo.

Pemeriksaan yang bisa dilakukan secara mandiri ini (self-test) bekerja untuk Forman, yang kembali bekerja setelah operasi jantung, segera mendapatkan tambahan berat 40 pound (18 kg), dan merasa tidak enak. "Aku tidak bisa fokus pada hal-hal," katanya. "Aku merasa seperti aku telah tambah dewasa. Aku hanya merasa benar-benar terbebani dengan pekerjaan, dan dengan semua hal."

Akhirnya Forman menyadari bahwa depresi yang ia alami tidak normal dan meminta bantuan. Dokter keluarganya memberikan resep psikoterapi dan antidepresan.," katanya, pengobatan ini telah meberikan perbedaan yang besar dari kondisi sebelumnya. "Ini seperti berat yang dia peroleh telah diangkat."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar