Tampilkan postingan dengan label DNA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DNA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Juli 2010

Gen Sperma Tidak Berubah Hingga 600 Juta Tahun

spermaKasus menurunnya kesuburan pria kerap diduga akibat kerusakan DNA sperma karena terkena seleksi alam. Tapi sebuah penelitian menemukan gen sperma tidak dapat berubah hingga 600 juta tahun.

DNA atau Deoxyribo Nucleic Acid merupakan asam nukleat yang menyimpan semua informasi tentang genetika. DNA inilah yang menentukan jenis rambut, warna kulit dan sifat-sifat khusus dari manusia.

Peneliti di Northwestern University Feinberg School of Medicine menemukan fungsi gen yang disebut dengan gen Boule ini tidak akan berubah sepanjang evolusi.

Hasil penelitian yang diterbitkan pada 15 Juli 2010 pada jurnal PLoS Genetics, dapat memiliki beberapa implikasi bagi kesehatan manusia. Penemuan ini diharapkan bisa meningkatkan pemahaman tentang infertilitas laki-laki atau menawarkan target baru yang potensial untuk obat kontrasepsi laki-laki.

"Ini adalah bukti nyata pertama yang menunjukkan kemampuan kita untuk memproduksi sperma sangat tua, mungkin berasal pada awal evolusi hewan 600 juta tahun yang lalu," pungkas Eugene Xu, asisten profesor kebidanan dan ginekologi Northwestern University Feinberg School of Medicine, seperti dilansir dari MSNNews, Jumat (16/7/2010).

Xu mengungkapkan gen Boule kemungkinan merupakan gen khusus tertua yang pernah ditemukan manusia. Namun uniknya struktur gen sperma manusia serupa dengan yang diperlukan makhluk hidup lain yang juga memproduksi sperma mulai dari serangga hingga mamalia.

Kerusakan DNA sperma selama ini diduga menjadi penyebab turunnnya kesuburan, naiknya risiko keguguran hingga kerusakan saraf seperti pada penderita gangguan kejiwaan. Penyebab kerusakan DNA sperma ini sebelumnya diduga karena infeksi, rokok atau usia tua.

(mer/ir)

Oleh: Merry Wahyuningsih
Sumber: detikHealth

Kamis, 19 November 2009

Hubungan Seks Setiap Hari Baik Untuk Kesehatan Sperma

Kesehatan Sperma
Hubungan seks setiap hari dapat meningkatkan kualitas sperma dan dapat meningkatkan kemungkinan memiliki anak pada pasutri. Dalam penelitian terhadap beberapa pria yang memiliki masalah fertilitas (kesuburan), ejakulasi setiap hari selama satu minggu mampu mengurangi kerusakan DNA pada sample sperma.

Berbicara pada konferensi tentang fertilitas, peneliti Australia menyarankan pada pasutri untuk melakukan hubungan seks minimal 2 atau 3 hari sekali, karena pada percobaan sebelumnya menunjukkan hasil yang menjanjikan. Namun penelitian terakhir yang melibatkan 118 pria telah memberikan hasil yang berbeda.

Dr. David Greening, dari Sydney IVF, di pertemuan European Society for Human Reproduction and Embryology mengatakan bahwa delapan dari sepuluh pria dalam penelitian mengalami penurunan kerusakan DNA sperma sebesar 12% setelah tujuh hari melakukan hubungan seks setiap hari. Sperma juga menjadi lebih aktif dengan peningkatan motilitas. Meskipun terdapat penurunan besar jumlah sperma dari 180 juta menjadi 70 juta selama seminggu, pria tersebut masih dalam batasan subur.

Mendapatkan Kehamilan

Sperma yang tersimpan di dalam testis terlalu lama, meningkatkan kemungkinan untuk mengakumulasi kerusakan DNA dan lingkungan yang hangat di dalam testis juga bisa membuat sperma mengalami penurunan tingkat motilitas.

Dr. Greening memperingatkan, hubungan seks setiap hari dalam jangka waktu yang lama, misal 2 minggu, akan mengurangi jumlah sperma terlalu banyak. Sehingga jika ingin mendapatkan kehamilan, sebaiknya hubungan seks setiap hari dilakukan selama seminggu di waktu pasangan wanita mengalami masa subur.

Namun Dr. Alan Pacey, pakar kesuburan dari University of Sheffield mengatakan bahwa ejakulasi setiap hari bisa meningkatkan kemungkinan pembuahan adalah benar, tapi akan salah jika diterapkan pada semua orang. Pada usia tua, kemampuan seks pria berbeda dengan ketika mereka masih muda, dan dalam hal reproduksi sel sperma-pun berbeda. Belum lagi jika pria tersebut memiliki gangguan dalam reproduksi sel sperma, maka hubungan seks setiap hari tidak dapat diterapkan pada kasus seperti ini. Hubungan seks 2 atau 3 hari sekali mungkin merupakan solusi yang tepat bagi pria lanjut yang ingin memiliki anak.

Sabtu, 18 Oktober 2008

Antidepresan Dapat Merusak Sperma

Obat Antidepresan
Riset ilmuwan di Amerika Serikat mengindikasikan, obat yang digunakan jutaan pria di dunia untuk meringankan depresi ternyata dapat menimbulkan efek samping terhadap kualitas kesuburan.

Penelitian terhadap puluhan pria sehat menunjukkan, pemberian obat antidepresan paroxetine selama empat pekan menyebabkan kerusakan pada sebagian besar DNA sperma para partisipan.

Tim peneliti dari Cornell Medical Center di New York yang menggagas riset ini menegaskan, temuan ini tidak serta-merta memberi indikasi adanya ancaman bagi para pria dalam mendapatkan keturunan. Menurut seorang ahli fertilitas di Sheffield, Inggris, hasil riset yang dimuat New Scientist ini perlu dikembangkan lebih lanjut.
Paroxetine, yang dijual dengan merek Seroxat atau Paxil, adalah salah satu obat antidepresan yang paling banyak diresepkan. Penelitian ini tercatat sebagai riset kedua yang dilakukan di Cornell Medical Center untuk mencari kemungkinan dampak penggunaan obat antidepresan terhadap kualitas sperma.

Pada riset yang dipimpin Peter Schlegel dan Cigdem Tanrikut ini, 35 partisipan sehat diminta secara sukarela memberikan sampel sperma sebelum dan setelah mendapatkan pengobatan paroxetine. Hasil pemeriksaaan di bawah mikroskop tidak menunjukkan perbedaan yang berarti pada dua jenis sampel sperma, yakni sebelum dan setelah pengobatan. Bentuk dan pergerakan sperma pada dua kelompok sampel tampak normal.

Namun demikian, saat pengujian fragmentasi DNA, dua kelompok sampel sperma menunjukkan perbedaan. Beberapa sperma yang mengalami gangguan DNA ditemukan pada setiap sampel, dan 13,8 persen sel-sel sperma yang dihasilkan sebelum pengobatan ditemukan mengalami fragmentasi. Setelah pengobatan dengan paroxetine selama empat minggu, jumlah yang terfragmentasi meningkat hingga 30,3 persen.

Salah satu pertanyaan kunci adalah apakah perubahan ini cukup signifikan memengaruhi kesuburan pria, atau apakah sisa 70 persen sperma yang tidak terpengaruh bakal cukup untuk menghasilkan kehamilan secara konsisten.

Pada pasangan yang menjalani program bayi tabung atau In Vitro Fertilization, beberapa penelitian mengindikasikan bahwa pasangan dengan tingkat kerusakan DNA spermanya tinggi menghasilkan lebih sedikit embrio. Embrio mereka juga cenderung sulit berhasil saat ditanamkan dalam rahim.

Dr Allan Pacey, pakar Andrologi dari University of Sheffield, berpendapat, meski banyak laporan sporadis menyebutkan antidepresan dapat memengaruhi kualitas sperma, perlu banyak riset lanjutan dalam upaya membantu para ilmuwan mengevaluasi risiko penggunaan obat.

"Munculnya peningkatan kerusakan DNA pada sperma adalah hal yang perlu diwaspadai meski pada tingkat yang kita anggap kerusakannya dapat merugikan secara klinis masih menjadi kontroversi bagi para ilmuwan.

"Patut disayangkan peneliti tampaknya tidak melakukan riset secara acak dan kontrol yang mana teknik ini menjadi cara paling ilmiah untuk meneliti pengaruh obat. Tetapi saya percaya bahwa hasil temuan ini menjadi perhatian dan perlu diteliti lebih lanjut," paparnya.

Sementara itu, perusahaan yang memproduksi obat ini, GlaxoSmithKline, menyatakan akan me-review hasil penelitian ini. "Obat-obatan ini masih tetap menjadi pilihan penting, selain konseling dan perubahan gaya hidup, untuk mengobati depresi. Riset ini seharusnya tidak perlu menimbulkan kekhawatiran para pasien. Pasien juga harus mendiskusikan kondisi mereka dengan dokter sebelum menggunakan obat ini," ujar juru bicara GlaxoSmithKline.