Sabtu, 13 Juni 2009

Harapan Baru Pengobatan Virus HIV

Pengobatan Virus HIV
Menurut laporan jurnal “New England Journal of Medicine”, seorang penderita virus HIV dengan leukemia yang berumur 42 tahun, secara tiba-tiba tidak terdeteksi gejala AIDS setelah dilakukan transplantasi stem cell dari donor dan terjadi mutasi gen yang mengakibatkan resisten terhadap virus HIV. Hingga 2 tahun setelah proses transplantasi dilakukan, penderita tidak lagi menampakkan gejala-gejala AIDS.

Pada laporan tersebut, tim medis yang dipimpin oleh Dr. Gero Hutter dari Jerman mengatakan bahwa awalnya transplantasi stem cell dari penderita tersebut adalah untuk penanganan leukemia-nya, bukan penanganan virus HIV-nya. Namun setelah itu terjadi mutasi gen yang mengakibatkan sel darah menjadi resisten terhadap virus HIV. Mutasi tersebut terjadi pada reseptor yang dikenal sebagai CCR5, yang secara normal ditemukan pada permukaan T cell – sel pada sistem kekebalan tubuh yang diserang oleh virus HIV. Gen yang telah bermutasi tersebut dikenal sebagai CCR5 delta 32, dan ditemukan pada 1% - 3% populasi orang kulit putih di Eropa.

Virus HIV menggunakan CCR5 sebagai co-reseptor untuk merusak sistem kekebalan tubuh. Sejak CCR5 bermutasi menjadi CCR5 delta 32, virus HIV tidak lagi mampu menyerang sel sehingga terjadi kekebalan tubuh alami pada orang yang mengalami mutasi gen.

Meskipun penemuan ini menjanjikan harapan baru untuk pengobatan virus HIV, Dr. Jay Levy dari University of California San Francisco mengatakan bahwa transplantasi stem cell itu sendiri sangat berbahaya untuk digunakan sebagai pengobatan rutin. Karena satu dari tiga proses transplantasi berakhir pada kematian. Ditambahkan, kemungkinan transplantasi bukan cara yang tepat untuk pengobatan virus HIV karena virus HIV bisa menyerang sel yang lain dan bersembunyi dalam tubuh penderita yang akan menyerang lagi dikemudian hari.

Hal ini disetujui oleh Dr. Hutter, bahwa transplantasi tidak seharusnya digunakan untuk mengobati HIV sendiri. Karena pada kasus di atas yang ditanganinya, transplantasi dilakukan untuk penanganan leukemia. Hasil transplantasi itu sendiri yang sangat mengejutkan, karena gejala leukemia dan HIV menghilang bersamaan.

Hingga saat ini, penemuan tersebut masih dalam penelitian yang lebih lanjut. Dan diharapkan dalam waktu 5 tahun kedepan, para peneliti sudah menemukan titik cerah pengobatan virus HIV.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar